Senin, 31 Oktober 2011

Lele Sangkuriang Yang Menguntungkan

Memiliki jiwa wirausaha tidak lahir dalam sekejap. Jiwa wirausaha itu harus dipupuk dengan keuletan dan ketangguhan. Bahkan, kegagalan dalam berwirausaha, dianggap sebagai tantangan untuk terus berkreasi dan berinovasi. Seperti pengalaman wirausahawan muda Fauzan Hangriawan.

BAGAIMANA menurunkan angka pengangguran di Indonesia, yang jumlahnya 8,3 juta orang? Salah satu caranya dengan menciptakan pekerjaan dan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Bahkan, bekerja atau menciptakan lapangan pekerjaan pun tidak harus menunggu selesai sekolah atau kuliah. Seperti mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya, Fauzan Hangriawani yang membuat budidaya lele. Usahanya itu pun sukses besar dan mendapat penghargaan Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2010, sebagai juara pertama, pada Januari 2011 lalu.

Tapi, ia mengaku agak risih dengan sebutan wirausaha muda sukses. Pasalnya, Fauzan merasa belum sukses. Apalagi, lelaki itu belum lama menggeluti usaha budidaya lele tersebut. Meski begitu, ia sangat senang menerima penghargaan tersebut. "Penghargaan itu merupakan amanah," kata lajang kelahiran Pontianak.

Lewat penghargaan itu, Fauzan juga ingin membuktikan bahwa generasi muda juga mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya sebagai pencari kerja.Dia mengaku, prihatin dengan tingginya angka pengangguran di Indonesia. Angka Biro Pusat Statistik 2010 menyebutkan, jumlah pengangguran masih 8,3 juta orang.

Itu sebabnya, anak sulung keluarga Suparno dan Titik Suwarsih ini, sangatmendukung Gerakan Kewirausahaan Nasional yang dicanangkan Presiden SBY, pada Februari lalu.
Menurut Fauzan, hal itu sesuai dengan visi pribadinya, yakni mengembangkan usaha yang bermanfaat bagi banyak orang, khususnya masyarakat sekitar. Penghargaan yang diterimanya itu semakin meyakinkan dirinya tentang pilihan hidupanya sebagai wirausaha.

Saat ini, usaha budidaya lele itu dibangun lewat pola kemitraan. Sebanyak 20 petani lele bergabung dalam usahanya. Para petani yang bermitra dengan Fauza, berasal dari masyarakat sekitar tempat usahanya, seperti Kavling DKI, Cipedak, Jagakarsa, di wilayah Jakarta Selatan. Kerjasama itu meliputi, jual beli benih dan lele hasil pembesaran, pendampingan usaha, dan transfer teknologi.

Impian yang Berbuah Nyata

Seperti pengalaman banyak orang. Fauzan pun mendapat tentangan orang-tua. Pasalnya, orangtuanya tidak setuju anaknya menjadi wirausaha. Orangtuanya ingin Fauzan kuliah dengan baik dan setelah lulus bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Di sisi lain, semangat Fauzan semakin menggebu menjadipengusaha. Ia sudah mengimpikan cita-citanya itu sejak lama. Sebab, sejak SMA dia sudah senang berjualan di sekolahnya, seperti berdagang kerupuk hingga nasi bungkus.

Kesenangan berdagang itu berlanjut hingga ke bangku kuliah. Fauzan pernah jualan somai di Jalan Kukusan, Depok. Dia juga pernah membuka usaha fotokopi dan percetakan. Fauzan bersyukur sejak semester tiga, dia sudah tidak minta uang kuliah kepada orangtuanya.

Sebelum membuka usaha budidaya lele sangkuriang, lelaki lajang ini telah lebih dulu menggeluti bisnis lele dumbo. Tapi usaha tersebut hanya bertahan beberapa bulan, karena menghadapi banyak kendala.

Akhirnya, Fauzan beralih ke usaha budidaya lele sangkuriang. Ide usahanya berawal dari tulisan di Harian Kompas yang menceritakan kesuksesan Nasrudin, petani di Bogor, yang berhasil mengem-bangkan usaha lele sangkuriang. Tulisan itu memberi inspirasi kepada Fauzan.

Langkah awal yang ditempuhnya, yakni mengikuti pelatihan di tempat Nasrudin. Setelah itu, dia mengajak dua kawannya untuk bermitra dalam usaha tersebut.

Sekarang, berkat semangat pantang menyerah dan kerja kerasnya, usaha tersebut mulai berbuah manis. Fauzan tidak saja menjual benih, tetapi juga lele sangkuriang hasil pembesaran. Dalam sebulan, Fauzan bisa menjual sekitar 120.000 benih dan 100 kg lele sangkuriang.

Lele sangkuriang itu dijual ke pasar tradisional, rumah makan padang dan warung pecel lele kala lima di wilayah Jabodetabek. Harga lele yang ditawarkannya itu dipatok Rp 15.000/kg.

Namun, usaha yang dibangun Fauzan tidak selalu berjalan mulus. Diajuga mele-wati proses jatuh bangun. Dalam setahun terakhir, budidaya Idenya menghadapi kendala cuaca yang ekstrem, seperti curah hujannya tinggi. Hal itu tidak menguntungkan bagi usahanya, sebab lele butuh cukup sinar matahari agar pertumbuhannya baik.

Budidaya lele sangkurian, dibangun Fauza pada akhir tahun 2009. Ia membuat delapan kolam lele. Membuka usaha itu, ia patungan dengan dua temannya. Saat ini, usahanya itu telah berkembang menjadi 35kolam pembenihan dan 65 kolam pembesaran lele.

Fauzan Hangriawan barangk ali bisa menjadi gambaran petani masa depan. Dia muda, suka kerja keras, berpendidikan tinggi, dan memiliki jiwa wirausaha.

Perbaikan Genetik

Menurut Nasrudin, petani lele sangkuriang, dari Gadog, Bogor, lele sangkuriang itu perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6).

"Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas I meter x 1 meter," ujar Nasrudin seperti dikutip Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Nasrudin juga dikenal sebagai guru yang baik dan tidak pelit berbagi ilmu kepada orang lain. Sikap itu yang membuat Fauzan sangat menghormati Nasrudin.Peluang pasar lele sangkuriang sangat besar. Kebutuhan pasar lele di Jakarta sekitar 80 ton per hari, tapi baru terpenuhi kurang lebih 40 ton per hari. "Itulah salah satu alasan kenapa saya memilih usaha lele sangkuriang," ujar Fauzan, he

Mahasiswa Poliven Panen 117 Kg Lele

BANDA ACEH - Mahasiswa Politeknik Indonesia Venezuela (Poliven) melakukan panen lele jenis sangkuriang di kolam budidaya lele di kampus Poliven, di Desa Cot Suruy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat (5/8). Panen keempat kalinya itu mendapatkan hasil sekitar 117 kilogram lele dengan panjang 7-8 cm. Sejak pukul 09.00 WIB kemarin, sejumlah mahasiswa mulai turun ke petakan kolam dengan lebar 20x10 meter. Mereka mulai menebar jaring dan kemudian mengangkat ikan lele ke tepian kolam.

Ikan lele jenis sangkuriang itu pun di timbang sebelum diantarkan ke agen ikan lele di Lampulo dan Neusu. Lele tersebut dijual Rp 13.500 hingga Rp 14.000/Kg. Direktur Poliven, Ir Al Qudri A Gani MM mengatakan, ini kali keempat mahasiswanya melakukan panen lele yang dibudidayakan di delapan kolam di halaman belakang kampus Poliven. Panen keempat ini jumlah lele yang dipanen tidak terlalu banyak hanya sekitar 117 kg. “Panen pertama sekitar 147,5 kg, panen kedua 363 kg, dan ketiga 177,5 kg,” sebut Al Qudri, kemarin.
 Keistimewaan pemeliharaan lele jenis sangkuriang karena lele ini dalam waktu sekitar dua bulan atau tiga bulan sudah bisa dipanen. Untuk pasaran jenis lele ini memang sedang banyak permintaan untuk rumah makan dan warung pecal lele. Ke depan, Poliven berencana akan menjadikan kampus ini sebagai pusat pembenihan lele sangkuriang. (c47)

panen lele poliven
- Panen pertama 147,5 Kg
- Panen kedua 363 Kg
- Panen ketiga 177,5 Kg
- Panen keempat 117 kg





060811foto.11_.jpg

Sang Fenomenal Lele Sangkuriang


Sejarah Singkat.
Mengenal sejarah lele sangkuriang tidak akan terlepas dari sejarah lele dumbo. Sebelumnya masyarakat Indonesia hanya mengenal lele lokal dengan segala keterbatasannya. Lele dumbo masuk dan diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1985 dan langsung mendapat tanggapan positif dari masyarakat Indonesia. Pasalnya, lele dumbo yang didatangkan dari Taiwan ini memiliki berbagai keunggulan dibanding lele lokal saat itu, seperti panen lebih cepat, jumlah telur lebih banyak, dan lebih tahan terhadap penyakit. Sehingga kehadiran lele dumbo saat itu langsung menggeser popularitas lele lokal



Bertahun-tahun lele dumbo menempati urutan teratas. Sayangnya perkembangan budidaya lele dumbo ini tidak diikuti oleh pengelolaan induk yang baik. Akibatnya lele dumbo yang beredar saat ini di masyarakat mengalami penurunan kualitas. Terbukti dengan laju pertumbuhan yang kian hari kian melambat, semakin mudah terserang penyakit, dan kualitas daging yang semakin tidak baik (basah dan bau lumpur). Diduga disebabkan oleh seleksi indukan yang salah dan inbreeding (dilakukannya perkawinan sekerabat).
Sebagai upaya mengembalikan kualitas lele dumbo agar mendekati kualitas ketika pertama kali didatangkan ke Indonesia, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil merekayasa genetik lele dumbo dengan melakukan silang balik (Backross). Proses ini dilakukan dengan cara mengawinkan induk lele dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi ke enam (F6). Induk betina F2 ini merupakan induk keturunan lele dumbo yang dintroduksi ke Indonesia tahun 1985, sedangkan Induk jantan F6 merupakan keturunan dari induk betina F2. Keduanya merupakan induk sediaan dari BBPBAT Sukabumi.
Proses tersebut menghasilkan lele berkualitas unggul mendekati kualitas lele dumbo ketika pertama kali didatangkan ke Indonesia. Sehingga pada tahun 2004, lele hasil silang balik tersebut resmi dilepas oleh Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai komoditas baru ikan lele unggul melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KP.26./MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004. Lele dumbo hasil perbaikan genetik itu kini diberi nama Lele Sangkuriang. Nama “Sangkuriang” diambil dari cerita rakyat Jawa Barat, legenda Sangkuriang sebagai anak yang hendak menikahi Dayang Sumbi sebagai Ibu.
Lele Sangkuriang memiliki banyak keunggulan, diataranya lebih tahan penyakit, pertumbuhannya lebih cepat, dari ukuran 5-7 cm menjadi lele konsumsi 6-10 ekor/kg hanya memerlukan waktu 50 hari pemeliharaan. memiliki fcr 0,8-1 artinya untuk mendapatkan daging 1 kg membutuhkan pakan 0,8-1 kg, sedangkan lele dumbo fcr-nya antara 1-1,3 dan usia panen lebih lama bauat lele dumbo.

Asal Usul Lele Sangkuriang

Lele Sangkuriang adalah keturunan dari lele dumbo yang berasal dari Africa selatan dan tergolong
kepada keluarga cat fish. Ada beberapa nama jenis lele yang ada di Indonesia

  • lele Dumbo
  • lele Sangkuriang
  • lele Phyton
  • lele Lokal
Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun, lele dumbo yang ada di Indonesia semakin menurun kualitasnya, ini diakibatkan sering terjadinya perkawinan satu keturunan (inbreeding) untuk itu Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) memutuskan untuk melakukan pemurnian kembali. Betina keturunan kedua lele dumbo asli dari Afrika Selatan (F2) dikawinkan dengan pejantan keturunan keenam yang lokal (F6). Bagaikan ibu mengawini anak lelakinya sendiri, sehingga anakan yang dihasilkan kemudian dinamakan Lele Sangkuriang.

Melihat hal diatas bahwa lele sangkuriang adalah lele dumbo hasil pemuliaan atau peremajaan.
Dibawah ini adalah perbedaan karakter lele Sangkuriang dengan lele Dumbo

Karakter Pertumbuhan
Deskripsi Lele Sangkuriang Lele Dumbo
Pendederan 1 (benih umur 5-26 hari)
Pertumbuhan harian (%) 29,26 20,38
Panjang standar (cm) 3-5 2-3
Kelangsungan hidup (%) >80 >80

Pendederan 1 (benih umur 26-40 hari)
Pertumbuhan harian (%) 13,96 12,18
Panjang standar (cm) 5-8 3-5
Kelangsungan hidup (%) >90 >90

Pembesaran
Pertumbuhan harian selama 3 bulan (%) 3,53 2,73
Pertumbuhan harian calon induk (%) 0,85 0,62
Konversi pakan 0,8-1 >1

Sumber BBPBAT, 2007
Toleransi terhadap lingkungan dan penyakit
Lele SANGKURIANG Lele Dumbo
Kematangan gonad pertama (bulan) 8 - 9 4 – 5
Fekunditas (butir/kg induk) 40,000 – 60,000 20.000 – 30.000
Intensitas Trichodina sp.
Pada pendederan di kolam (individu) 30 – 40 > 100
Intensitas Ichthiophthirius sp.
Pada pendederan di kolam (individu) 6.30 19.50

Sumber data Ceno Harimurti Adi (Perekayasa BBPBAT)
Pada dasarnya perkawinan jauh keturunan adalah perkawinan yang menghasilkan benih kualitas unggul dimana benih ini tidak mudah terserang hama penyakit dan cepat pertumbuhannya. bukan hanya lele sangkuriang konon lele phyton pun adalah hasil persilangan dari lele dumbo indonesia dengan lele dumbo dari Thailand. Menurut salah satu sumber dari BBPBAT anakan dari lele sangkuriang ini hanya diperuntukan untuk calon pembesaran saja dan tidak bisa jadi induk.

Indukan lele sangkuriang hanya bisa di dapat di BBPBAT Sukabumi karena disertai dengan surat data keterangan asal ikan, dengan demikian para pelaku budidaya tidak akan was-was mengunakan indukan sangkuring karena keasliannya.

Ada beberapa kelompok mengatakan kalau lele sangkuriang sama dengan lele-lele lain,sah-sah saja sebenarnya mereka berdalih, tapi kadang lele yang dia dapatkan sebenarnya juga tidak jelas apa benar anakan lele sangkuriang atau bukan. Bila kita mau membandingkan pertumbuhan atau kualitas lele sangkuriang dengan lele jenis lain ada beberapa langkah yang harus diperhatikan diantaranya:
  • Luas kolam dan kedalaman kolam harus sama
  • Bibit yang diperoleh harus jelas keturunannya
  • Padat tebar yang sama
  • Suhu dan ph yang sama
  • Pola makan yang sama
  • kualitas air yang sama
  • proteksi yang sama terhadap gangguan luar

Bila langkah-langkah diatas di penuhi maka bisa kita berargumen kalau salah satu dari lele yang ditebar adalah bagus atau tidak. Sulit memang bila kita mau melihat perbedaan jenis lele dari segi fisik nya, tips dalam menentukan atau memilih benih dan indukan berkualitas diantaranya:
  • Membeli indukan atau benih dari sumber yang jelas seperti dari BBPBAT, balai benih (BBI ),
  • Pelaku usaha budidaya yang telah mempunyai sertifikasi atau telah mempunyai data asal indukan yang bisa dipertanggung jawabkan.
  • Benih atau indukan yang di peroleh harus disertakan data asal dan keturunan yang jelas.
Dari semua paparan diatas dapatlah disimpulkan bibit atau indukan yang akan kita budidayakanharuslah jelas asal dan keturunannya.

Greenhouse Lele Sangkuriang Pertama Di Indonesia

Kolam lele, khususnya kolam lele sangkuriang mungkin sudah tidak aneh. Karena tempat pemeliharaan ikan ini sudah banyak yang memilikinya. Tak hanya di Pulau Jawa juga di Luar Pulau Jawa. Tak hanya milik pemerintah juga milik perusahaan dan milik para pembudidaya. Tetapi greenhouse lele sangkuriang terdengar sangat aneh. Karena belum ada pembudidaya yang memiliknya. Tempat pemeliharaan ikan ini hanya ada di UF-two.
Ide pembangunan greenhouse lele berawal dari banyaknya kendala budidaya yang terjadi di masyarakat, dimana keadaan musim, terutama musim hujan sangat mempengaruhi kegiatan budidaya ikan. Hujan telah menjadi salah satu penyebab utama turunnya produksi lele. Adanya hujan deras dapat menurunkan kualitas air kolam, terutama tingkat kesuburan danf luktuasi  suhu air yang tinggi selama masa pemeliharaan.

Dengan menurunnya tingkat kesuburan, maka populasi pakan alami menurun. Dalam kondisi seperti ini, ikan kehilangan kesempatan untuk makan. Dampaknya ikan-ikan menjadi kurus dan tumbuh sangat lambat. Dampak lain kondisi ikan turut menurun dan bisa terserang penyakit. Tak hanya oleh tingkat kesuburan yang rendah, penurunan kondisi tubuh bisa juga disebabkan oleh fluktuasi suhu air yang tinggi, akibat hujan.
Selain adanya kendala budidaya di masyarakat, ide pembangunan greenhouse lele juga muncul karena adanya tuntutan konsumen. Karena dalam greenhouse dapat diproduksi lele yang higeinis, atau lele yang terbebas dari bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia. Produk lele yang higeinis sangat dibutuhkan dimasa yang datang, terutama dalam menghadapi perdagangan bebas dunia tahun berikutnya.
Itulah dua hal pokok yang menjadi latar belakang pembangunan greenhouse oleh UF-two., disamping masih banyak alasan lain. Yang pasti bangunan itu bisa memberikan banyak keuntungan bagi para pembudidaya.  Greenhouse UF-two dapat menjadi Greenhouse Lele Sangkuriang pertama di Indonesia. Untuk hasilnya, UF-two telah memberikan nama yang sesuai, yaitu Lele Greenhouse. Itulah UF-two.
Majulah bersama UF-two

Jumat, 28 Oktober 2011

Sejarah Lele Sangkuriang

 Kecebong, anak kodok, muncul di kolam, membuat gembira karena dia mengira kecebong itu anak ikan . Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan itu adalah kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama dua indukan ikan betina dan seekor jantan.
Itu pengalaman pertama Nasrudin (61) sejak delapan tahun lalu saat belajar beternak .
Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Nasrudin sudah tersohor berkat yang mulai dikembangbiakkan pada 2001. Dia mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.
Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dan jantan generasi keenam (F6). Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan .
Dia kini sudah menjadi ”pendekar lele”, bukan saja mahir dalam membesarkan lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan. Namanya pun sohor menjadi ”Nasrudin Lele” dari Desa Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut ”Letkol” Nasrudin.
Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. ”Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya.
Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada mereka yang ingin membudidayakan lele.
Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele sangkuriang.
Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Sangkuriang ”Cahaya Kita” untuk wilayah tengah Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.
1,5 juta benih

Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.
Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah. Kami peternak lele sangkuriang di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 10 ton,” kata ”Letkol” Nasarudin. Lele sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram.
Masa depan budidaya lele cukup cerah. Ikan lele saat ini sudah digemari oleh kalangan bawah sampai atas. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mempromosikannya dengan menikmati ikan lele di kampung lele Boyolali, Jateng, tahun 2007.
Andil pedagang tenda pecel lele di Jabotabek dan daerah lainnya cukup besar dalam meningkatkan produksi ikan lele. ”Sekarang lele juga dijual di restoran, bahkan sampai ke daerah Kalimantan Barat yang dulu tak suka ikan lele,” kata Muhamad Abduh Nur Hidayat, penasihat Gapok Cahaya Kita.
Lele sangkuriang yang dirilis sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri pada 2004 ini lebih cepat dipanen dibandingkan jenis ikan lainnya dan tahan penyakit. Ukurannya lebih besar dibandingkan lele jenis lain. ”Karena itu, tak heran kalau lele sangkuriang disukai konsumen,” kata ”Letkol” Nasrudin. ( Sumber : Kompas )

Perkembangan Lele Sangkuriang

Perkembangan ikan lele di indonesia sangatlah menarik untuk disimak, dari tahun ketahun setiap peternak , Pembeli maupun Pengusaha ingin mendapatkan hasil kwalitas lele yang terbaik.

Dengan berjalannya waktu, para ilmuwan maupun peternak lele yang kreatif mengembangkan varietas indukan LELE yang lebih unggul dengan menyilang kawinkan induk LELE menjadi induk yang berkwalitas, dalam arti dapat bertelur lebih banyak , dagingnya rasanya gurih dan kesat (tidak basah), tahan terhadap penyakit serta interval waktu pemijahannyapun lebih pendek .
Kesan masyarakat terhadap pemelihaaraan LELE masihlah berkesan menjijikkan karena masa lalu LELE selalu dipelihara pada lahan yang kumuh bahkan jorok ada yang di pelihara dikubangan tanah dan makanannyapun sangat kotor.
Tetapi budidaya LELE saat ini cukuplah bagus, budidiaya LELE pada kolam semen maupun terpal dan makanannyapun pelet bergisi dan berkwalitas, agar LELE dapat mempunyai kecepatan bobot untuk dapat dijual dan dikonsumsi.

LELE  DUMBO :
Pada tahun '80 an LELE DUMBO diperkenalkan di Indonesia dan disambut hangat oleh para petani LELE, karena berbagai keunggulan dibandingkan dengan LELE lokal, seperti junlah telur yang dikeluarkan oleh induk betina DUMBO relatif lebih banyak dibandingkan LELE lokal, kemampuan pemijahan lebih banyak per tahunnya.

Dengan waktu yang hampir  bersamaan di tahun 2004 diketemukan LELE Varietas Baru yakni LELE SANGKURIANG oleh BBPBAT (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar) di kota Sukabumi oleh para ilmuwan. Sedangkan jenis Varietas yang lain adalah LELE PHYTON oleh Bp.Wawan Setiawan, "Ketua kelompok Pembudidayaan Ikan Air Tawar Sinar Kehidupan Abadi", di kota Pandeglang Banten.
Pembaca akan dapat mengenal lebih yakin kehebatan lele Varietas baru ini dari para pakar LELE SANGKURIANG dan pakar LELE PHYTON ,sbb :

UNGKAPAN PAKAR LELE SANGKURIANG, Bp. NASRUDIN , dari Mega Mendung, jabar :
Lele Sangkuriang, akhir-akhir ini mulai mendapatkan tempat teratas baik dikalangan peternak, pelaku usaha maupun konsumen lele. Tak heran jika lele jenis baru ini kian lama kian digemari, pasalnya lele sangkuriang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan lele dumbo biasa. Adapun beberapa keunggulan tersebut diantaranya sebagai berikut :

1. PRODUKSI TINGGI 
Angka produksi lele sangkuriang lebih tinggi dibanding lele dumbo biasa. Berdasarkan pengalaman di lapangan, untuk membesarkan benih lele dumbosebanyak 1000 ekor dengan pemberian pakan 1 kwintal hanya menghasilkan lele konsumsi sebanyak 70-80 kg. Sedangkan untuk lele sangkuriang dengan jumlah benih dan pakan yang sama dapat menghasilkan 1-1,4 kwintal.

2. MASA PANEN LEBIH CEPAT
Masa panen lele sangkuriang baik ditingkat pembenihan maupun ditingkat pembesaran terbukti lebih cepat dibandingkan dengan lele dumbo. Ditingkat pembenihan, pertumbuhan lele sangkuriang dari ukuran 2-3 cm untuk mencapai ukuran 5-6 cm memerlukan waktu 20-25 hari. Sedangkan pada lele Dumbo membutuhkan waktu sekitar 30-40 hari. Pada tingkat pembesaran, untuk penebaran benih 5-6 cm, untuk mencapai ukuran lele konsumsi siap panen, lele sangkuriang hanya membutuhkan waktu 50-60 hari dengan asumsi suhu udara rata-rata 25-28 derajat Celcius. Masa panen akan lebih cepat lagi jika dibesarkan di daerah yang memiliki suhu yang tinggi. Sebagai contoh untuk daerah yang suhunya 35-38 derajat Celcius hanya memerlukan waktu 45 hari saja sampai lele siap panen. Sementara pada lel dumbo memerlukanwaktu 3-4 bulan.

3. KEMAMPUAN BERTELUR dan DAYA TETAS TELUR TINGGI
Kemampuan bertelur induk lele sangkuriang dua kali lipat dibandingkan dengan lele dumbo. jika satu ekor induk lele dumbo dalam sehari bertelur biasanya menghasilkan 20.000-30.000 butir, sedangkan lele sangkuriang mampu bertelur hingga 40.000-60.000 butir. Begitu juga dengan daya tetasnya, Daya tetas lele dumbo terbilang cukup tinggi yakni 80% akan tetapi lele sangkuriang lebih tinggi lagi, yakni 90%. Dengan demikian angka produksi lele sangkuriang menjadi lebih tinggi dibanding lele dumbo.

4. LEBIH TAHAN TERHADAP PENYAKIT
Semua jenis lele memiliki pertahanan tubuh berupa lendir dikulitnya, termasuk lele sangkuriang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, jenis bakteri yang sering menyerang ikan air tawar jarang ditemukan di kolam atau wadah budidaya sangkuriang, terutama Trichoda sp. Dan Ichthiophthirius sp. Namun demikian langkah-langkah pencegahan terhadap penyakit mutlak diperlukan.

5. KUALITAS DAGING LEBIH UNGGUL
Daging lele sangkuriang memiliki tekstur daging yang lebih padat dan minim kandungan lemak jika dibandingkan lele dumbo. Dari segi rasapun memiliki keunggulan yakni renyah, lebih gurih dan tidak bau lumpur. Apalagi jika dibudidayakan secara organik lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi. Lele jenis inipun memiliki kandungan omega3 yang sangat baik untuk pertumbuhan dan kecerdasan otak.

6. TEKNIK PEMELIHARAAN LEBIH MUDAH
Teknik pemeliharaan lele sangkuriang relatif lebih mudah dibanding dengan lele dumbo biasa, apalagi dibandingkan dengan pemeliharaan jenis ikan lainnya. Lele sangkuriang bisa dibudidayakan dilahan yang sempit. Hanya diperlukan lahan 5X2 meter saja untuk membesarkan benih 1000 ekor. Dengan luas lahan tersebut berdasarkan pengalaman yang dilakukan Nasrudin dan Yadi serta peternak binaannya dapat menghasilkan lele konsumsi sebanyak 1-1,4 kwintal. Selain itu untuk menghemat biaya pembuatan kolam, lele sangkuriang bisa juga dibudidayakan menggunakan kolam terpal.

UNGKAPAN PAKAR LELE PHYTON, BP.WAWAN SETIAWAN, DARI PANDEGELANG, BANTEN.
Siapa tak kenal lele Dumbo ? varietas itu memang boleh dibilang sebagai bintangnya ikan lele. populer di akhir 1980 an, lele dumbo dikenal punya banyak keunggulan dibandingkan dengan varietas lele lainnya. Sebut saja kemudahan untuk dibudidayakan, dapat dipijahkan sepanjang tahun fekunditas (jumlah butir telur / kilogram 9kg) induk betina yang tinggi, pertumbuhan yang cepat dan efisiensi pakan yang tinggi.
Tapi itu dulu, sekarang pamor lele dumbo semakin meredup seiring dengan perkembangan zaman. Penggunaan induk yang tidak dikontrol membuat lele dumbo punya banyak kelemahan, mortalitas (tingkat kematian) benih yang tinggi dan tidak optimalnya produksi cuma sedikit dari kelemahan lele dumbo saat ini.
Itu sebabnya lele varietas baru pun kemudian dikembangkan. Jika beberapa waktu lalu pemerintah baru saja merilis lele sangkuriang sebagai varietas unggulan, kini ada pendatang baru asal kabupaten PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN yang tak kalah kinclongnya. Varietas tersebut adalah LELE PHYTON.
Yang menarik, jika lele Sangkuriang ditemukan oleh para peneliti bergelar akademik, LELE PHYTON  ditemukan oleh kelompok pembudidaya yang belajar secara otodidak. " Tapi kami yakin, secara kwalitas LELE PHYTON tak  kalah dengan LELE SANGKURIANG", kata WAWAN SETIAWAN, ketua kelompok pembudidaya Ikan Air Tawar Sinar Kehidupan Abadi yang menjadi penemu LELE PHYTON.
Kualitas LELE PHYTON juga diakui oleh KASUBDIN PERIKANAN BUDIDAYA PROPINSI BANTEN, Wahjul Chair, menurutnya, berdasarkan hasil pengujian ilmiah, LELE PHYTON memeang punya kwalitas yang setara dengan LELE SANGKURIANG. "Meski LELE PHYTON ditemukan oleh pembudidaya namun kwalitasnya bioleh diadu dengan LELE SANGKURIANG yang ditemukan dari laboratorium". Puji Wahjul.
Salah satu indikator tingginya kualitas LELE PHYTON bisa dilihat dari konversi pakannya. Memiliki FCR (Food Convertion Ratio) 1:1, maka satu kilogram pakan yang diberikan kepada LELE PHYTON juga akan menghasilkan sekilo daging. Bandingkan dengan FCR milik LELE SANGKURIANG yang punya perbandingan 1:0,81. Bukan itu saja, keunggulan LELE PHYTON yang lainadalah soal rasanya. Memiliki tubuh bak ular PHYTON, LELE PHYTON sangat lincah bergerak. Hal ini kemudian berkorelasi positif dengan rasa dagingnya.
"Karena lebih lincah, rasa daging LELE PHYTON terasa lebih enak dan gurih karena lemak yang terkandung lebih sedikit", kata WAWAN.
Bukan itu saja, karena lebih langsing LELE PHYTON terlihat lebih menarik jika disajikan dalam masakan ketimbang lele dumbo yang tambun. Apalagi jika LELE PHYTON diolah menjadi pecel lele, makin kloplah penampilannya. Kemampuan adaptasi WAWAN, yang kelompoknya bermarkas didesa BAYUMUNDU, KECAMATAN KEDUHEJO, PANDEGLANG menuturkan, ditemukannya LELE PHYTON  berawal dari kenyataan benih yang diimport dari daerah lain lebih sering mati jika dipeliharadikolam didesa tersebut.
Benih asal daerah lain, kata wawan tidak punya kemampuan untuk beradaptasi dengan iklim desa Bayumundu yang dingin. "Suhu didesa kami bisa mencapai 17 derajat celcius pada malam hari. Akibatnya benih yang didatangkan dari daerah lain tidak mampu beradaptasi dan akibatnya mati". Tuturnya.
Wawan menceritakan, kelompoknya pernah mendatangkan setengah juta benih lele dari Lampung. Namun benih tersebut memiliki tingkat mortalitas (kematian) yang sangat tinggi."seharusnya kami bisa panen50 ton, ternyata hanya bisa panen sebanyak 22 ton. Akhirnya kami berfikir bisa ngak bis kami harus mencetak benih sendiri", katanya.
Berawal dari kondisi tersebut, Wawan dan kelompoknya kemudian mulai mencoba mengembangkan lele asli pandeglang yang cocok dengan iklim di daerah tersebut. Setelah hampir 2 tahun melakukan percobaan trialo and error, lahirlah lele PHYTON pada 2004.
Wawan menjelaskan, lele phyton dihasilkan dengan menyilangkan induk eks Thailand generasi ke 2 (F@) dengan induk lele lokal. 'Untuk induk lele lokalnya kami tak tahu generasi keberapa, karena sudah bertahun-tahun dikembangkan disini', jelasnya. Digunakannya induk lele lokal dalam proses persilangan kemudian menghasilkan keunggulan lele phyton yang lain, yaitu kemampuan adaptasi terhadap iklim dingin yang dimiliki kabupaten Pandeglang. Kemampuan adaptasi tersebut membuat tingkat mortalitas lelephyton sangat rendah.Survival Rate (SR/tingkat kelangsungan hidup) lele phyton bisa jadi diatas 90%". kata Wawan yakin.
Kemampuan adaptasi lele phyton bukan sekedar berguna untuk daerah dingin, untuk daerah beriklim panas lele phyton punya kemampuan untuk beradaptasi yang luar bisa. "Berdasarkan pengalaman, benih yang dihasilkan didaerah dingin selalu bisa bertahan didaerah yang iklimnya dingin. Begitupula lele phyton."jelas Wawan. Untung terus, yang jelas, kwalitas lel phyton menjanjikan keuntungan marathon alias terus menerus. Menurut wawan, dengan modal awal Rp.5,8 juta, pendapatan pembudidaya bisa mencapai Rp.7,2 juta. itu artinya ada keuntungan sebesar Rp.1,4 juta untuk 50 hari siklus lele phyton.
Begini perinciannya, untuk satu kolam dengan 10.000 ekor benih tebar dan harga benih Rp.150,-/ekoe, maka dibutuhkan Rp.1,5 juta untuk pengadaan benih. Kemudian selama 50 hari pemeliharaan dibutuhkan satu ton pakan dengan harga Rp.4.300/Kg. Itu artinya dibutuhkan Rp.4,3 juta untuk pengadaan pakan, jadi total modal yang perlu disiapkan oleh pembudidaya Rp.5,8 juta. Setelah 50 hari pemeliharaan, panen yang akan diperoleh mencapai satu ton.
Dengan harga jual Rp.7.200/Kg pendapatan yang dikeruk pun mencapai Rp.7,2 juta. jadi keuntungan yang bisa diperoleh mencapai Rp.1,4 juta/siklus. "Yang membuat budidaya lele phyton semakin besar peluangnya adalah masih minimnya pasok ikan lele. Di Banten saja kebutuhannya yang mencapai 7 ton per hari belum terpenuhi", kata wawan. Kesimpulannya, buat anda yang ingin dipatuk keuntungan budidaya, lele phyton adalah pilihan yang tepat.

Keunggulan Lele Sangkuriang

Para pengusaha ternak lele maupun pebisnis yang bergerak dalam budidaya lele kini mulai melirik dan meyakini Keunggulan Lele Sangkuriang. Hasil modifikasi lele dumbo keluaran terbaru ini memang  pantas untuk diminati oleh berbagai kalangan karena memang telah terbukti memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan lele dumbo pendahulunya. Keunggulan lele sangkuriang yang antara lain adalah :
~ Lele sangkuriang memiliki hasil produksi yang lebih tinggi, baik pada segmen pembenihan maupun pembesaran, hal ini dapat dilihat dari hasil pemberian pakan sebanyak 1 ton untuk 10.000 ekor benih lele sangkuriang, peternak lele biasanya dapat memanen hasil 1 s/d 1,4 ton lele konsumsi. Sungguh pencapaian yang luar biasa, disamping kualitas pakan yang baik, tentunya kualitas dan keunggulan lele sangkuriang yang luar biasa juga menjadi faktor keberhasilan produksi yang lebih tinggi.
~ Masa panen lele sangkuriang lebih cepat, keunggulan lele sangkuriang dalam hal ini disebabkan pertumbuhan lele sangkurian terbilang sangat cepat, misalnya saja untuk benih lele berukuran 2/3 cm untuk tumbuh ke ukuran 5/6 cm lele sangkuriang hanya perlu waktu 20 s/d 25 hari. Demikian juga pada segmen pembesaran, para pengusaha ternak lele yang biasa menggunakan bibit 5/6 cm hanya membutuhkan waktu 50 s/d 60 hari sampai pada saat panen, ini jika ternak lele sangkuriang  berada pada lokasi  yang bersuhu dingin, jika ternak lele berlokasi pada suhu yang lebih panas, masa panen bisa lebih cepat lagi yaitu + 45 hari.
~ keunggulan lele sangkuriang juga terdapat pada telurnya, lele sangkuriang memiliki telur lebih banyak dan daya tetas yang lebih hebat, hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah telur yang dihasilkan oleh satu ekor induk lele sangkuriang dalam setiap pemijahan berjumlah + 40.000 s/d 60.000 butir dengan kemampuan tetas telur lebih dari 90 %.
~ Lele sangkuriang memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit, hal ini bisa jadi karena lele sangkuriang telah mengalami proses perbaikan secara genetika yang dilakukan oleh para ahli perikanan, sehingga keunggulan lele sangkuriang dari sisi kekebalan/daya tahan tubuh melebihi pendahulunya, namun bukan berarti kita harus lengah dengan perawatan lele sangkuriang, kita tetap harus menjaga dan waspada kepada setiap bahaya dan penyakit yang mungkin menyerang lele sangkuriang, hanya saja daya tahan yang lebih terhadap penyakit tentunya jadi hal yang lebih menguntungkan untuk para peternak lele.
~ keunggulan lele sangkuriang  juga dapat dirasakan melalui cita rasa dagingnya yang telah banyak dibuktikan oleh berbagai kalangan, disamping rasanya yang lebih gurih, lele sangkuriang memiliki tekstur daging yang lebih padat dan minim akan lemak.
~ keunggulan lele sangkuriang  dalam proses pembudidayaan dan pemeliharaan yang terbilang mudah dan sederhana, baik dari segi lokasi, sarana kolam, perawatan air dan perawatan ikan jauh lebih mudah dan sederhana, karena lele sangkuriang juga bisa dibudidayakan dalam lahan yang terbilang sempit, tentunya dengan menggunakan metode dan teknologi yang benar dan memenuhi syarat.
~ Keunggulan lele sangkuriang juga bisa dilihat dalam hal pengadaan benih, kini benih lele sangkuriang sudah mulai mudah didapat, namun harus tetap selektif memilih tempat untuk membeli benih, usahakan membeli benih lele sangkuriang pada tempat-tempat yang sudah terjamin dan bisa dipercaya.
Rasanya masih banyak lagi keunggulan lele sangkuriang yang  masih bisa disebutkan. Jadi memang sudah sepantasnya jika banyak kalangan yang bergelut di dunia lele kini mulai beralih kepada lele sangkuriang karena keunggulan lele sangkuriang memang telah banyak dibuktikan belakangan ini.

Inilah Spirit,'Letkol' Nasrudin Komandan Peternak Lele Sangkuriang


Image ALHIKMAHONLINE.COM-- Siapa yang menyangka, dengan tubuh kecilnya, Nasrudin telah menyebarkan spirit ilmu dan kewirausahaan ke seluruh pelosok Tanah Air. Dengan merk, Lele Sangkuriang, Nasrudin menjelma menjadi peternak ikan sukses. Konon, omzet yang diraih bisa mencapai 100 juta/ tiga bulan dari satu kolam ikan lelenya.

“Itu semua atas izin Allah. Saya tidak ada apa-apanya. Kalau saya tidak ketemu Dhompet Dhuafa, saya juga tak akan bisa seperti ini,” kata Nasrudin, saat ditemui Alhikmah di sela diskusi "Pemberdayaan Desa", Selasa (4/5/2010),  merendah.
Dalam kesehariannya, Nasrudin banyak mengajarkan masalah perikanan, terutama lele kepada orang-orang sekitar. Ia bahkan menjadi mentor bagi peternak ikan di 28 provinsi di Indonesia. Kemahirannya dalam beternak ikan telah diakui oleh banyak pihak.
“Pernah ada orang yang datang kepada saya, Orang cacat. Ingin belajar beternak ikan, saya ajarkan segala kemampuan saya padanya. Alhamdulillah setelah satu tahun ia bisa mandiri. Omzetnya pun mendekati 20 juta rupiah per bulan. Dari pihak akademisi pun banyak yang datang. Mahasiswa IPB sudah tak asing lagi berkunjung ke rumah saya. Orang asing seperti, Qatar dan Jepang pun berdatangan,” ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi, sebab Nasrudin mengajarkan ilmunya secara langsung.
“Kebanyakan orang mengajarkan sesuatu itu di dalam ruangan atau balik meja. Saya langsung di lapangan. Turun ke kolam, mengail ikan dan lain-lain,” katanya.
“Buku saya adalah terpal. Langit adalah tempat menulisnya dan air merupakan tintanya,” tegas Nasrudin.
Selama ini Nasrudin hidup dengan kesederhanaan. Walaupun keuntungan dapat diraih dengan melimpah kehidupannya tidak mau berubah.
“Bagi saya, kemewahan adalah bisa tidur nyenyak, berkumpul dengan saudara, dan mempunyai iman pada Allah SWT,” katanya.
Ketika disinggung tentang harapan ke depan soal perikanan, Nasrudin berkata; “Seluruh masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim, mempunyai potensi yang tiada terkira. Pemerintah yang mempunyai kewenangan dalam berbagai kebijakannya, seharusnya jangan memberikan modal berupa materi saja. Akan tetapi, ilmu dan keterampilanlah yang paling penting. Menurut saya, program seperti BLT itu seharusnya dihapuskan. Lebih baik diubah dengan pelatihan-pelatihan yang mendukung masyarakat.”
Begitulah Nasrudin, peternak lele Sangkuriang yang masih teguh memegang prinsip kesederhanaan. Baginya pangkat dan harta berada pada nomor sekian kehidupannya.
“Saya lebih memilih ilmu dan itu harus diamalkan. Toh, saya sudah punya pangkat Letkol. Letnan kolam maksudnya,” pungkas Nasrudin sambil tertawa renyah.
(ffh/alhikmahonline)        

Ani Panen Lele Sangkuriang Khas Sukabumi


SUKABUMI- Cerahnya prospek Lele Sangkuriang yang banyak dibudidayakan masyarakat petani di Sukabumi mendapat perhatian khusus Ibu Negara RI, Ny Ani Yudhoyono.
Istri orang nomor satu di tanah air sengaja datang ke Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pada 29 Juli 2009, untuk melihat bagaimana lembaga yang dipercaya dalam mengelola perikanan di Indonesia itu mengembangkan budidaya Lele Sangkuriang. Di samping itu, Ani juga melakukan panen raya Lele Sangkuriang.
Ani datang bersama rombongan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang salah satunya Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ny Freddy Numberi. Kehadiran Ani juga disambut hangat para pelajar SD di Kota Sukabumi dengan melambai-lambaikan tangan. Ani juga disambut Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf Macan Effendi dan istri, bersama Walikota Sukabumi, Muslikh Abdussyukur beserta istri.
Begitu sampai di BBPBAT, Ibu Negara langsung dikasih pakan ikan. Kemudian bersama para pejabat, Ani langsung menabur pakan ikan tersebut ke puluhan ribu Lele Sangkuriang yang ditanam di kolam-kolam di lembaga tersebut.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ibu Negara prihatin bahwa antusias masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi ikan masih tergolong kecil. “Kisarannya baru 26,5 Kg per kapita per tahun,”paparnya yang menambahkan padahal dengan Indonesia merupakan wilayah yang 2/3 nya dipenuhi perairan.
Beda dengan semangat warga negara tetangga di Asia Tenggara. Misalnya, kata Ani, Malaysia yang tingkat kisaran konsumsi ikan mencapai 30 Kg/kapita/tahun.Begitupun Philipina 40 Kg/kapita/tahun. “Sedangkan yang masyarakatnya terbanyak mengkonsumsi ikan adalah Singapura dengan kisaran 70 Kg/kapita/tahun,”ungkapnya.
Maka dengan hadirnya Ani ke Sukabumi untuk panen Lele Sangkuriang dalam rangka peningkatan ketahanan pangan dan program tanam pohon.
Setelah itu, Ani juga membagikan induk Lele Sangkuriang kepada sejumlah kabupaten/kota di Indonesia untuk dikembangkan.
“Diharapkan induk Lele Sangkuriang ini bisa terus dikembangkan. Sehingga,mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hewani, yakni makan ikan demi menjaga kesehatan. Dan membantu program Pemerintah Republik Indonesia dalam ketahanan pangan,”harapnya.
Di tempat yang sama Kepala BBPBAT, Ir Maskur mengatakan, dari analisa pihaknya, Lele Sangkuriang adalah spesies yang mampu bertahan dari serangan virus dibanding ikan lainnya. ” Sangkuriang merupkana lele hasil persilangan genetika induk betina dengan jantan keenam yang pertumbuhannya cukup cepat,”singkatnya. (sri/dit)

Kamis, 27 Oktober 2011

Panen Lele Perdana,Gubernur Motivasi Masyarakat Manfaatkan Pekarangan

leleGubernur Bali Made Mangku Pastika melakukan panen lele perdana pada kolam ikan yang berada di areal Kantor Gubernur Bali, Jumat (16/9). Budidaya lele dan sejumlah jenis ikan lainnya merupakan salah satu upaya Pemprov Bali dalam memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan.

I Gede Suwardhiyana yang dipercaya sebagai pengelola kolam menjelaskan, di areal Kantor Gubernur hingga saat ini terdapat empat buah kolam. Tiga diantaranya merupakan kolam permanen dan satu kolam buatan yang dibuat dari terpal. Tiga kolam permanen memang sudah ada sebagai bagian penataan areal kantor. Agar tidak mubazir, ketiganya kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Lele yang dipanen kemarin berasal dari kolam permanen yang berada di sebelah selatan Pura Kantor Gubernur. Lele yang dipanen jenis Sangkuriang, berjumlah sekitar 200 ekor. Sementara dua kolam permanen lainnya yang berada di halaman depan dan Gedung Wiswa Sabha lebih banyak diisi ikan nila dan karper. Selain memanfaatkan tiga kolam permanen yang telah ada, belakangan juga dibuat sebuah kolam dari terpal. Sekitar seminggu lalu, kolam tersebut telah diisi 3.300 bibit lele jenis Sekar Taji yang merupakan hasil persilangan bibit Thailand dan Afrika. Budidaya lele pada kolam buatan ini merupakan kerjasama dengan Koperasi Aditama, Sidemen.
Budidaya lele dan sejumlah ikan di areal kantor ini bukanlah tanpa tujuan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi contoh dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangannya. "Kita tak ingin hanya bicara saja, tapi memberi contoh," ujar Gubernur. Dia mengharapkan, hal ini bisa menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan waktu dan pekarangan dengan beternak ikan. "Ternyata tidak sulit. Kalau tidak punya kolam, bisa membuatnya dengan terpal," imbuhnya. Selain bermanfaat secara ekonomis, budidaya ikan dalam skala rumah tangga juga berkaitan dengan peningkatan gizi keluarga. "Lele itu proteinnya tinggi dan juga ada nilai ekonomisnya," imbuhnya.
Selain panen lele, Gubernur juga meninjau Instalasi Pengolahan Pupuk Organik yang ada di areal kantor. Keberadaan instalasi ini membuktikan kalau Pemprov Bali tidak setengah hati dalam melaksanakan program Bali Clean and Green. Keberadaan pengolahan pupuk organik ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan Bali Green Province.
Setiap harinya areal Kantor Gubernur menghasilkan 350-400 Kg sampah organik yang berasal dari dedaunan. Instalasi memiliki tiga blok pengolahan sampah yang masing-masing mampu menampung 4 meter kubik sampah. Dioperasikan sejak 25 Mei lalu, instalasi ini mulai menghasilkan pupuk organik. Bahkan pupuk yang dihasilkan sudah sempat dikirim untuk gerakan penghijauan di kawasan SMAN Bali Mandara yang terletak di Kubutambahan. (Hms)

Untung Besar Dari Bisnis Ternak Lele Sangkuriang

jurus-sukses-lele-sangkuriangLele sangkuriang memiliki banyak keunggulan. Dengan teknik budi daya yang tepat, lele unggul ini dapat berproduksi luar biasa, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Selain itu, pasar komoditas ini masih terbuka lebar. Apalagi teknik budi daya yang diterapkan berbasis organik. Selain lel bergizi tinggi, produksinya lebih sehat karena dihasilkan melalui cara alami.

Berdasarkan pengalaman peternak lele, capaian produksi lele sangkuriang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan capaian angka produksi lele dumbo biasa, baik di tingkat pembenihan maupun pembesaran. Umumnya, pemberian pakan sebanyak 1 ton untuk membesarkan benih lele dumbo sebanyak 10.000 ekor hanya menghasilkan lele konsumsi sekitar 7--8 kuintal. Sementara itu, pada lele sangkuriang, pemberian pakan dengan kuantitas dan kualitas yang setara, mampu menghasilkan lele konsumsi sekitar 1—1.4 ton.

Dengan kata lain, berdasarkan fakta tersebut, food conversion rate (FCR) lele sangkuriang Iebih rendah daripada FCR lele dumbo biasa. FCR adalah perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot ikan selama masa pemeliharaan hingga saat panen ikan tiba.

FCR yang baik dan menguntungkan petani adalah yang memiliki nilai rendah. Semakin rendah nilai FCR, semakin kecil jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli pakan. Sebaliknya, semakin tinggi nilai FCR, semakin besar jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli pakan.

Dalam budi daya ikan, nilai FCR sangat ditentukan sedikitnya oleh dua hal, yakni kualitas pakan yang diberikan dan sifat bawaan mengenai laju pertumbuhan jenis ikan yang dipelihara. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, pertumbuhan ikan akan semakin cepat. Pakan berkualitas memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik sehingga dapat diandalkan untuk memacu pertumbuhan ikan.

Dengan cepatnya pertumbuhan ikan, kebutuhan jumlah total pakan selama masa pemeliharaan ikan relatif bisa ditekan. Dengan demikian, nilai FCR pun menjadi rendah. Sementara itu, lele sangkuriang tergolong jenis lele yang memiliki laju pertumbuhan cepat. Otomatis, nilai FCR-nya pun rendah.

Masih ada hal lain dari keunggulan beternak lele sangkuriang, yaitu siklus panen lebih cepat, kemampuan daya bertelur dan daya tetas telur lebih tinggi, lebih tahan terhadap penyakit, kualitas daging lebih unggul, lebih tahan banting, teknik pemeliharaan lebih mudah, bisa dibudidayakan di lahan sempit, dan sekarang, benihnya pun mudah diperoleh.

Selanjutnya, bagaimana aplikasi budi daya lele sangkuriang ini? Bagaimana prospek bisnisnya? Seberapa modal dan simulasi biaya usaha budi daya lele sangkuriang ini? Nah, AgroMedia Pustaka menerbitkan buku “Jurus Sukses Beternak Lele Sangkuriang” yang akan menjadi jawaban tepat bagi Anda dalam mengaplikasikan seluruh teknik beternak lele sangkuriang.

Di dalam buku yang ditulis oleh Nasrudin ini membahas berbagai macam kebutuhan informasi budi daya dan bisnis peternakan lele, mulai dari 1001 keunggulan lele sangkuriang, geliat bisnis lele sangkuriang, testimoni peternak lele sangkuriang sukses, pengenalan anatomi dan seputar kehidupan lele, pembenihan, pembesaran, jenis-jenis pakan, penanggulangan hama dan penyakit, hingga panen dan pengemasan.

Menariknya, penulis yang sudah dikenal sebagai pelatih nomor satu dalam budi daya lele sangkuriang ini memberikan arahan pemeliharaan lele secara organik. Silakan mencobanya!

Semoga sukses!

Inovasi Teknologi Kolam Budidaya Lele

Inovasi Teknologi  dalam budidaya lele terus mengalami perkembangan, terlebih beberapa tahun belakangan ini, dari setiap sisi perubahan pada teknologi budidaya lele diharapakan mampu meningkatkan produksi dengan cara yang lebih evisien namun tetap evektif, sehingga para pelaku usaha ternak dan budidaya lele lebih bisa dimudahkan lagi untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Dari sekian banyak inovasi teknologi budidaya lele, yang paling menarik adalah tata cara pembuatan kolam, teknologi pembuatan kolam dalam budidaya lele terus mengalami perubahan, yang paling terkenal dan sering dibicarakan belakangan ini adalah teknologi kolam terpal. Selain lebih murah dari sisi ekonomi, perawatan kolam terpal juga relatif lebih mudah dan tetap bisa diandalkan karena dapat menekan angka kerugian benih atau bibit lele, jika dibandingkan dengan kolam lele dari tanah, resiko kerugian para pengusaha budidaya lele akan lebih besar, karena pada kolam tanah banyak terdapat hama dan terkadang terjadi kebocoran yang sulit untuk dideteksi.

Inovasi teknologi kolam pada budidaya lele juga dapat disesuaikan dengan lahan dan kemampuan modal para pengusaha budidaya dan ternak  lele, contoh yang paling signifikan misanya pada pada segmen pembenihan, sebelumnya para pembudidaya ikan lele beranggapan pembuatan kolam pada segmen pembenihan  harus menggunakan lahan yang cukup luas, anggapan itu belakangan ini ditepis oleh beberapa orang pembudidaya lele sangkuriang  yang memiliki lahan dan modal usaha terbatas, pada dasarnya lahan dan modal usaha yang besar memang sangat berguna bagi setiap pengusaha, namun jika kita memiliki keterbatasan, bukan suatu alasan bagi kita untuk menyerah, bahkan bagi beberapa rekan pembudidaya lele sangkuriang, keterbatasan itu malah memicu mereka untuk lebih mengembangkan potensi yang ada.

Keterbatasan lahan dan modal menginspirasi mereka untuk dapat terus melakukan budidaya lele pada segmen pembenihan, untuk proses pemijahan digunakan kolam yang lebih kecil dengan ukuran 2m(P)x1,5m(L)x1m(T), menggunakan 4 kakaban, indukan lele yang dipijahkan juga hanya 2 jantan dan 1 betina, sementara kolam penetasan yang digunakan berukuran 2mx4mx0,5m sebanyak 6 buah, 4 kolam diperuntukan untuk penetasan, saat indukan telah bertelur dikakaban, pada setiap kolam penetasan diletakkan satu kakaban, sementara 2 kolam yang tersisa digunakan untuk hasil penyortiran benih lele, berdasarkan pengalaman, dengan tehnik ini  hasil produksi tetap evektif , bahkan beberapa pembudidaya lele mengakui dengan tehnik seperti ini hasil produksi benih lele lebih meningkat. Untuk anda yang belum mencoba, silahkan mencoba, untuk yang sudah mencoba, semoga kesuksesan dalam budidaya lele terus menginspirasi anda, salam sukses…

Budidaya Lele Dapat Menjadi Pekerjaan Tetap Pengungsi Merapi

Sleman (ANTARA News) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan budidaya ikan lele di lereng Gunung Merapi khususnya di "shelter" atau hunian sementara dapat menjadi pekerjaan tetap warga yang sebelumnya merupakan petani atau peternak sapi.

"Budidaya ikan lele ini cukup bagus dikembangkan di lereng Merapi, ini bukan hanya menjadi sandaran hidup sementara, namun dapat menjadi peluang pekerjaan tetap para korban bencana Merapi," kata Sri Sultan HB X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Disperindagkop DIY Astungkoro pada peresmian Kelompok Usaha Bersama (Kube) Budidaya Lele di Dusun Mudal, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Kamis (9/6).

Menurut dia, kebutuhan ikan lele di DIY saat ini cukup tinggi dan selama ini masih dipenuhi dari luar daerah.

"Jika budidaya lele ini ditekuni dengan benar maka kebutuhan ikan lele di DIY dapat dipenuhi dari lereng Merapi ini, sehingga ini juga akan dapat menjadi pekertjaan tetap warga lereng Merapi," katanya.

Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) bekerjasama dengan Bank Ekonomi memberikan pendampingan bagi masyarakat di Dusun Mudal, Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Pendampingan tersebut diwujudkan dalam bentuk pembentukan Koperasi Usaha Bersama (Kube) pengelolaan budidaya ikan lele.

"Sedikitnya ada 40 kepala keluarga (KK) di lereng Merapi yang mendapat pendampingan," kata Humas PKPU DIY Solihin.

Dipilihnya budidaya ikan lele, karena memiliki prospek yang bagus serta sangat mudah dari segi pengelolaan.

"Konsumsi ikan lele di DIY sangat tinggi. Selama ini, produksi di DIY masih belum mencukupi, sehingga memiliki prospek yang sangat bagus," kata Solihin lagi.

Warga korban Merapi yang menjadi anggota Kube ini sudah dilatih budidaya ikan lele sehingga selama pengelolaan ke depan warga sudah memiliki pengetahuan.

"Pelatihan dan pendampingan juga akan kami lakukan hingga setahun ke depan, baik itu mengenai pengelolaan maupun teknik penjualannya," kata dia.

Kolam ikan lele tersebut masing-masing berukuran 4,5 meter x 1,5 meter yang dibuat dengan menggunakan sumberdaya lokal yakni bambu dan kayu.

Yuk,Budidaya Lele Yang Murah Meriah

- Pekarangan rumah luas dan Anda suka budidaya ikan? Ada baiknya Anda melirik budidaya lele ini. Budidaya lele ini ternyata tak melulu 'jorok' karena sudah bisa dikembangkan sistem budidaya yang lebih murah, bersih dan menjanjikan dengan suplemen organik sehingga bisa maksimal hasilnya.

Bisnis budidaya ikan lele ini pun tampaknya akan selalu menguntungkan. Hal ini karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang terjangkau. Ikan menjadi alternatif mengingat harga daging yang makin hari makin mahal.

Ikan lele sendiri memiliki nilai gizi yang mumpuni disamping dagingnya yang gurih. Lele mengandung protein yang tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak balita. Selain itu lele juga mengandung mineral lain yang penting pula untuk kesehatan tubuh.

Dengan fakta-fakta itu, maka pada akhirnya ikan lele dapat dijadikan peluang usaha yang menarik. Mengingat selama ini budidaya ikan lele selalu terkesan 'jorok', kini budidaya ikan air tawar tersebut sudah berkembang menjadi lebih murah, bersih, dan menjanjikan.

"Sekarang untuk budidaya ikan lele, kita sudah ada suplemen organik yang dapat membantu budidaya lele lebih maksimal. Karena suplemen organik ini memiliki fungsi sebagai penjaga kualitas air, menignkatkan percepatan pembesaran bibit lele jika dicampur dengan pakannya, dan mengurangi tingkat mortalitas dari bibit lele," jelas Deden A.S, sebagai salah seorang pembudidaya lele yang ditemui detikFinance, Minggu (21/11/2010).

Deden, yang memulai budidaya lele ini sejak tahun 2006, diawali hanya iseng-iseng di pekarangan rumahnya dengan membuat kolam dari terpal sebesar 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 7O cm. Dengan pola budidaya intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tanam bibit ikan lele sebanyak kurang lebih 1800-2000 yang masing-masing bibit tersebut berukuran 10-12 cm.

"Setelah membuat kolam dan menaruh bibit lele tadi, kemudian memberi pakan dan suplemen organik dengan waktu teratur, selama 45 hari saya bisa memanen lele tersebut dengan jumlah berat sebesar 200 Kg - 250 Kg untuk jumlah maksimalnya," ujar Deden.

Bagi anda yang tertarik mencoba membudidayakan ikan lele ini, Deden memberi asumsi perhitungan yang sederhana. Dimulai dengan membuat kolam dari terpal dengan ukuran 3x3x1 meter yang tentunya memerlukan biaya yang tidak begitu mahal ketimbang membuat kolam dari semen atau kolam gali.

"Masalah perhitungan harga pembuatan kolam dari terpal, tentu semua orang akan tahu berapa biaya yang dibutuhkan. Karena terpal sendiri permeternya murah," jelas Deden.

Kemudian, Deden memberikan asumsi biaya pembelian bibit lele dengan harga Rp 300 per ekor. Jika untuk kolam 3x3x1 meter dapat menampung bibit kurang lebih 2000 ekor, maka kita hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 600.000 (Rp 300 x 2000 ekor).

Mengingat  lama pembesaran membutuhkan waktu selama 45 hari, maka kebutuhan pakan yang dibutuhkan adalah sejumlah 90 Kg (2 Kg perhari). Nantinya, Biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 660.000, dengan harga pakannya perkarung adalah Rp 220.000 seberat 30 Kg.

Adapun, pembelian kebutuhan suplemen organik adalah Rp 180.000 untuk 4 botol selama 45 hari pembesaran bibit. Empat botol tersebut akan difungsikan untuk pemaksimalan kualitas air dan bibit lele.

Pada akhirnya, total biaya yang dibutuhkan adalah kurang lebih Rp 1440000.

Berikut adalah ringkasan dari modal yang dibutuhkan perkolamnya adalah:



  • Harga Bibit Lele : Rp 300 x 2000 ekor = Rp 600.000
  • Harga  Pakan : Rp 220.000 x 3 karung = Rp 660.000
  • Harga Suplemen Organik: Rp 45000 x 4 botol = Rp 180.000
  • Total Biaya Produksi: Rp 1.440.000

Melalui asumsi modal tersebut dari Deden, maka keuntungan yang bisa didapat dari satu buah kolam dengan target panen 2.000 bibit adalah 200 Kg - 250 Kg.

Deden menjelaskan, bahwa harga eceran yang bisa diraih adalah senilai Rp 15.000 perkilonya. Sedangkan untuk harga yang dijual ke pasar, dapat diraih sebesar Rp 12000 perkilonya.

Sehingga, lanjut deden, jika diambil dari asumsi harga terendahnya, maka keuntungan yang bisa diambil adalah Rp 960.000 untuk satu kolam. Jumlah tersebut diambil dari penjualan lele sebanyak 200 Kg x Rp 12.000 yang berjumlah Rp 2400.000 dikurangi biaya produksi yang berjumlah Rp 1.440.000.

"Jika panen yang kita hasilkan maksimal, kita dapat mencapai berat sejumlah 250 Kg. Keuntungan yang bisa diambil dari selisih total penjualan dan biaya produksi adalah sebesar Rp 1.560.000 perkolamnya," tegas Deden.

Dari penjualan lele tadi saja, jelas Deden, itu sudah merupakan peluang usaha yang menarik di samping aktivitas kesibukan sehari-hari. Karena biaya yang dibutuhkan tidak membutuhkan nilai investasi yang tinggi.

"Dari sisi waktu tidak begitu lama, malah simple dan sederhana. Yang penting disiplin saja dalam jadwal pemberian pakan dan suplemen organiknya.'' kata Deden.

Berbicara mengenai peluang yang lebih luas lagi. Hasil dari lele tersebut, dapat dijadikan berbagai macam peluang usaha lainnya yang lebih menarik tentunya.

Selain yang sudah kita ketahui, lele dapat dijadikan menu makanan pecel lele. Namun di sisi lain, hasil dari olahan daging ikan lele dapat dijadikan berbagai macam hasil. Misalnya, daging lele dapat dijadikan nugget lele, abon lele, lele asap, bakso lele, dan bahkan dapat dijadikan filet lele. Mengingat kebutuhan filet lele untuk ekspor sangat tinggi.

"Atau mungkin kita dapat mengembangkan dari hasil ikan lele tersebut menjadi olahan-olahan penganan menurut ide dan kreativitas kita yang memiliki nilai jual tinggi," ucap Deden.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai budidaya intensif ikan lele, anda dapat menghubungi Departemen Perikanan, atau para pelaku usaha ikan lele seperti Deden A.S ini.

Rabu, 26 Oktober 2011

Badung Gelakkan Budi Daya Lele Sangkuriang

Saat ini Badung sedang mengembangkan budi daya lele sangkuriang. Budi daya lele itu cukup diminati masyarakat. Hal itu dikatakan Bupati Badung A.A. Gde Agung, Jumat (8/12) kemarin.
Dikatakannya, berbagai program inovatif telah dilaksanakan untuk memberdayakan sektor pertanian dalam arti luas. Sektor pertanian itu diyakini mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap PAD Badung. Di samping itu, sektor perikanan di Badung sangat potensial dikembangkan. Sektor ini peluang usaha yang berprospek cerah di masa depan. Dengan demikian Pemkab Badung terus berupaya mencari berbagai terobosan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat memilih jenis-jenis pembudidayaan ikan.
Salah satu usaha pembibitan lele sangkuriang berada di Desa Selat Kecamatan Abiansemal. Usaha pembibitan dan pembenihan ini dikelola oleh Kelompok Sedana Sari. Usaha ini juga tak luput dari pemantauan Gubernur Dewa Beratha ketika melaksanakan kunjungan kerja di Kabupaten Badung beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan tersebut Gubernur Dewa Beratha menyampaikan penghargaannya atas berbagai terobosan dalam bidang perikanan yang telah dilaksanakan Pemkab Badung dalam upaya meningkatkan ekonomi produktif.
Menurut Ir. I Wayan Netra dari Dinas Perikanan dan Kelautan Badung, Balai Benih Air Tawar (BBAT) Sukabumi sejak tahun 2000 melakukan perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross). Hasil uji tersebut menunjukkan ada peningkatan dalam pertumbuhan benih. Induk lele hasil perbaikan ini diberi nama lele sangkuriang.
Ketua Kelompok Sedana Sari I Made Suparsa mengatakan usaha pembibitan lele sangkuriang ini terus mendapat pembinaan dan pengawasan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung guna memantau perkembangan pembibitan dan pasarannya. (08/adv)