Jumat, 13 Januari 2012

Pemijahan Ikan : Penentuan Waktu Ovulasi

Kunci kedua yang harus benar-benar dikuasai pada pemijahan ikan adalah penentuan waktu stripping atau waktu ovulasi. Stripping yang terlalu atau lambat dapat mengakibatkan rendahnya keberhasilan tingkat penetasan telur dan menyebabkan kerusakan induk bahkan kematian.

Waktu ovulasi tercapai pada periode tertentu setelah penyuntikan (waktu laten). Waktu laten pada spesies ikan yang berbeda dapat berbeda pula bahkan pada spesies ikan yang sama, bergantung pada tingkat kematangan akhir gonad, temperatur inkubasi induk, kondisi lingkungan dan kondisi fisiologis ikan lainnya. 
 
Karena itu, penentuan waktu laten pada selang waktu tertentu tidak dapat secara mutlak digunakan, berbeda dengan selang waktu injeksi hormonal pertama dan kedua (bila menggunakan dua kali injeksi).
Secara simpel, identifikasi waktu ovulasi dapat dilakukan dengan mengurut bagian perut ikan ke arah genital secara perlahan.
 
Bila sudah ada sedikit telur yang keluar secara lancar (bukan dipaksa), waktu ovulasi sudah tercapai sehingga pengurutan selanjutnya dapat dilakukan dan dilanjutkan dengan pembuahan.
 
Secara akurat, waktu ovulasi dapat ditentukan berdasarkan posisi inti. Dengan pemberian larutan serra (60% ethanol, 30% formaldehyde, 10% acetic acid glacial), inti sudah mengalami kerusakan dinding germinal (GVBD, germinal vesicle breakdown).

Perawatan Tepat, Panen Lele Pun Maksimal

Di desa Gunungsari, kecamatan Beji, Pasuruan, seorang petani lele berhasil membudidaya ikan lele dengan hasil yang maksimal. Dalam kolam seluas 120m2, Kayat, demikian nama petani lele itu menebar 22000 ekor bibit lele dumbo berukuran 5cm-7cm. Hampir 3 bulan kemudian, bibit yang mulanya hanya berbobot 90kg, saat panen menjadi 2 ton lebih.

Dengan harga Rp.9.500 per kilogram untuk lele konsumsi, omzet yang didapat Kayat sekitar 19 juta rupiah. Dari omzet tersebut, Kayat mengeruk laba bersih sekitar 9 juta sesudah dipotong biaya untuk bibit, pakan dan obat-obatan.
 
Perawatan TepatBudi daya lele sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Di desa Gunungsari yang dikenal sebagai sentra budidaya lele konsumsi itu, sekitar 60 persen masyarakatnya menekuni usaha ini. Namun demikian, hanya sedikit saja yang mendapatkan hasil maksimal seperti yang diperoleh Kayat. Tidak jarang, diawal-awal atau pada minggu pertama setelah penebaran, banyak bibit lele yang mati.
 
 
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi air kolam yang kotor, bibit kurang baik, hingga serangan penyakit. Tidak sedikit petani lele di daerah itu gagal panen karena lelenya mati semua. Kalau sudah begitu, bukan keuntungan yang didapat, tetapi jutaan rupiah akan melayang.
 
LeleUsut punya usut, keberhasilan Kayat dalam budi daya lele diawali dari persiapan kolam secara matang, kemudian pembelian bibit lele yang baik/tidak mudah sakit, hingga pemberian pakan yang cukup.
Untuk menghindari kondisi air kolam rusak, sirkulasi air perlu diatur, terutama setelah pemberian pakan, dengan demikian air kolam akan selalu bersih dan lele tidak mudah terserang penyakit.
 
Lele tergolong ikan dengan konsumsi pakan cukup besar, jika pakan kurang, maka sesama lele akan saling memangsa. Untuk itu pemberian pakan jangan sampai telat. 
 
Untuk mengirit biaya pakan, Kayat biasa memberikan limbah telur atau ayam sebagai pengganti pakan pelet yang harganya sangat mahal. Kebutuhan total pakan lele sendiri bisa mencapai 80% dari total biaya operasional.
 
Apa kunci dari keberhasilan panen lele milik Kayat ? Kuncinya adalah perawatan air kolam dan pemberian pakan yang cukup. Dalam perawatan air kolam, selain menggunakan cara-cara yang sudah biasa dilakukan, Kayat pun menambahkan larutan probiotik. Probiotik yang digunakan adalah Marine Bioaquatic–disebarkan ke air kolam 2 kali seminggu.
 
Marine Bioaquatic mengandung bakteri-bakteri penetralisir air kolam untuk melindungi ikan dari racun dan bakteri-bakteri penyebab penyakit. 
 
Selain itu, supaya daya tahan ikan optimal dan tidak mudah terserang penyakit, petani berusia 45 tahun ini juga memberikan Marine Biostimulant yang aplikasinya dicampurkan dengan pakan. Pemberian Biostimulan, ujarnya, ternyata berpengaruh besar terhadap percepatan pertumbuhan lele.

Dongkrak Harga Jual Lele Konsumsi Pembudidaya Harus Melakukan "Grading"

http://agusrochdianto.files.wordpress.com/2011/05/jual-lele1.jpgSeiring maraknya budiaya ikan lele di kolam terpal, produksi lele konsumsi di Kabupaten Tabanan belakangan makin melimpah. Namun melimpahnya produksi lele ini ternyata tidak diimbangi dengan manajemen pemasaran yang baik. Akibatnya, harga lele di pasaran sempat anjlok sehingga membuat pembudidaya lele kelimpungan.

Kepala Dinas Perikanan dn Kelautan (Diskanlaut) Kbupaten Tabanan Ir. I Nyoman Wirna Ariwangsa, MM saat ditemui Manggala di ruang kerjanya, Selasa (10/5) mengakui pembudiaya ikan di Kabupaten Tabanan sebelumnya banyak yang mengeluh karena harga lele sempat turun. 

Terkait keluhan ini, pihaknya lantas melakukan pengamatan pasar serta melakukan iventarisasi permasalahan di tingkat pembudiaya dan pengepul. “Antara pembudiaya ikan selaku produsen dan pengepul selaku konsumen terjadi mis komunikasi. Harga lele sebenarnya stabil. Bahkan cenderung meningkat,” jelasnya. 
 
Menurut Ariwangsa, turunnya harga lele di tingkat pengepul seperti yang dikeluhkan para pembudiaya ikan sebelumnya, ternyata diakibatkan para pembudiaya ikan tidak melakukan “grading” atau pemilahan ikan yang dijual berdasarkan ukuran yang dikehendaki pengepul. “Pembudidaya menjual ikan dengan berbagai macam ukuran. 

Sementara pengepul menginginkan lele berukuran satu Kg terdiri 6-7 ekor,” katanya sambil menambahkan, akibat penjualan dengan sistem root (segala ukuran) tersebut, pengepul harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk melakukan grading sebelum menjual ikannya ke konsumen.

Terkait hal itu, Ariwangsa menghimbau agar pembudidaya ikan melakukan grading sebelum menjual ikannya ke pengepul atau konsumen. “Ikan yang dijual harus sesuai permintaan pasar.

Kalau pasar menginginkan sekilo terdiri dari 6 – 7 ekor, ukuran itulah yang harus disediakan oleh pembudiaya. Bukan menyediakan ukuran 1-2 ekor/Kg atau 8 – 10 ekor/Kg,” sarannya.

Selain menghimbau pembudiaya ikan melakukan grading, dalam waktu dekat ini pihaknya juga akan melakukan temu usaha, mempertemukan antara pembudiaya ikan selaku produsen dengan pengepul lele selaku konsumen. 

Di samping itu, untuk menekan biaya pakan, Wirna minta kepada pembudiaya ikan untuk memberikan pakan alternatif seperti keong, bekicot, limbah ikan dan dedaunan.

“Dengan beberapa tindakan tersebut, kita harapkan pembudidaya lele di Tabanan bisa bersaing dengan produsen lele dari daerah lain,” katanya sambil menambahkan pihaknya tidak bisa menyetop masuknya lele dari luar daerah ke Bali. “ Kami tidak punya wewenang untuk itu. 

Karena kegiatan itu sudah merupakan mekanisme pasar,” papar Wirna.
Sementara itu, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Srikandi”, Banjar Soka Kaja, Desa Antap, Selemadeg, I Made Suardika mengakui, harga lele di tingkat pengepul memang sempat anjlok dari semula Rp 11 ribu menjadi Rp 10 ribu/Kg. 

“Kami menduga anjloknya harga lele karena banyaknya lele dari Jawa yang masuk ke Bali. Dugaan kami ternyata tidak sepenuhnya benar. Turunnya harga karena kami tidak melakukan grading,” katany berterus terang.

Menurut Suardika, setelah pihaknya melakukan grading sesuai permintaan pasar, harga lele kembali normal seperti semula. Hal senada diungkapkan Komang Dharma Susila, Ketua Pokdakan “Dharma Nadi” di Desa Buruan, Penebel. Komang yang berprofesi juga sebagai pengepul ikan lele ini menuturkan bila harga lele selama ini tetap stabil.

Pihaknya membeli lele dari para pembudiaya ikan dengan harga Rp 11 ribu/kg untuk size 6 – 8 ekor sekilo . Sedangkan size 3 – 5 ekor sekilo dibeli dengan harga Rp 12.000/Kg . “Saya menjual ke konsumen berkisar Rp 12 ribu – 15 ribu per Kg sesuai ukuran yang diminta konsumen,” katanya berterus-terang.

Usaha Beternak Ikan Lele Sangkuriang

Lele sangkuriang sebenarnya merupakan salah satu jenis lele dumbo yang diperkenalkan oleh Taiwan pada tahun 1985. Lele dumbo ini memiliki kemampuan tumbuh lebih cepat dibanding lele lokal.

Hal itulah yang kemudian menyebabkan lele ini mampu menyita perhatian masyarakat Indonesia. Meski pada awalnya sebagian masyarakat menganggap lele dumbo tidak seenak lele lokal, namun pada akhirnya masyarakat pun mau menerima kehadiranya.

Balai besar pengembangan budi daya air tawar/BBPBAT, menemukan bahwa perkawinan silang balik antara induk jantan generasi keenam dengan induk betina generasi kedua menghasilkan jenis lele yang memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari lele dumbo biasa. Hasil persilangan inilah yang kemudian disebut sebagai lele sangkuriang.

Penampilan tubuh :
- Seperti halnya lele pada umumnya, lele sangkuriang memiliki kulit yang licin dan berlendir, tidak memiliki sisik sama sekali.
- Berwarna hitam, hitam keunguan, atau hitam kehijauan pada bagian punggung, dan putih kekuningan pada bagian perut, bagian samping totol-totol.
- Seperti kebanyakan lele dumbo, lele sangkuriang memiliki kepala yang panjang, bahkan lebih panjang dibandingkan lele dumbo pada umumnya. Panjang kepala lele dumbo lebih dari seperempat panjang total tubuhnya.
- Lele sangkuriang memiliki tubuh yang lebih panjang dibandingkan lele dumbo biasa pada umur yang sama.
- Lele sangkuriang memiliki sirip dengan jumlah yang sama dengan sirip lele dumbo pada umumnya, terdiri dari tiga sirip tunggal dan dua sirip berpasangan.

- Ikan lele memiliki cirri khas berupa sungut yang membedakannya dengan ikan lainnya. Mungkin karena sungut inilah, lele disebut catfish (ikan kucing). Sungut berfungsi penting sebagai alat penciuman dan juga peraba saat lele mencari makanan.

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi.

Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut: Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C.

Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. Ph air yang ideal berkisar antara 6-9. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l. Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah.

Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air. Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2.

Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.

Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran.

Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki.

Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk “L” mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam. Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:

Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran.

Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor). Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam.

Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2. Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring. Kemudian dilakukan pengisian air kolam. Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih.

Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari.

Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 – 250 gram per ekor dengan panjang 15 – 20 cm.

Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit.

Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat.

Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Habitat dan perilaku
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.

Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan.

Manfaat
Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan (diintroduksi) dari Afrika.

Lele dikembangbiakkan di Indonesia untuk konsumsi dan juga untuk menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran-kotoran.

Lele yang ditaruh di tempat-tempat yang kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok itu ialah maksudnya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya.

Kadangkala lele juga ditaruh di sawah karena memakan hama-hama yang berada di sawah. Lele sering pula ditaruh di kolam-kolam atau tempat-tempat air tergenang lainnya untuk menanggulangi tumbuhnya jentik-jentik nyamuk.

Mengapa Harus Lele Sangkuriang ?

Para pengusaha ternak lele maupun pebisnis yang bergerak dalam budidaya lele kini mulai melirik dan meyakini Keunggulan Lele Sangkuriang.

Hasil modifikasi lele dumbo keluaran terbaru ini memang  pantas untuk diminati oleh berbagai kalangan karena memang telah terbukti memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan lele dumbo pendahulunya. keunggulan Lele Sangkuriang yang antara lain adalah :


~ Lele sangkuriang memiliki hasil produksi yang lebih tinggi, baik pada segmen pembenihan maupun pembesaran, hal ini dapat dilihat dari hasil pemberian pakan sebanyak 1 ton untuk 10.000 ekor benih lele sangkuriang, peternak lele biasanya dapat memanen hasil 1 s/d 1,4 ton lele konsumsi. 
 
Sungguh pencapaian yang luar biasa, disamping kualitas pakan yang baik, tentunya kualitas dan keunggulan lele sangkuriang yang luar biasa juga menjadi faktor keberhasilan produksi yang lebih tinggi.

~ Masa panen lele sangkuriang lebih cepat, keunggulan lele sangkuriang dalam hal ini disebabkan pertumbuhan lele sangkurian terbilang sangat cepat, misalnya saja untuk benih lele berukuran 2/3 cm untuk tumbuh ke ukuran 5/6 cm lele sangkuriang hanya perlu waktu 20 s/d 25 hari. 
 
Demikian juga pada segmen pembesaran, para pengusaha ternak lele yang biasa menggunakan bibit 5/6 cm hanya membutuhkan waktu 50 s/d 60 hari sampai pada saat panen, ini jika ternak lele sangkuriang  berada pada lokasi  yang bersuhu dingin, jika ternak lele berlokasi pada suhu yang lebih panas, masa panen bisa lebih cepat lagi yaitu + 45 hari.

~ keunggulan lele sangkuriang juga terdapat pada telurnya, lele sangkuriang memiliki telur lebih banyak dan daya tetas yang lebih hebat, hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah telur yang dihasilkan oleh satu ekor induk lele sangkuriang dalam setiap pemijahan berjumlah + 40.000 s/d 60.000 butir dengan kemampuan tetas telur lebih dari 90 %.

~ Lele sangkuriang memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit, hal ini bisa jadi karena lele sangkuriang telah mengalami proses perbaikan secara genetika yang dilakukan oleh para ahli perikanan, sehingga keunggulan lele sangkuriang dari sisi kekebalan/daya tahan tubuh melebihi pendahulunya, namun bukan berarti kita harus lengah dengan perawatan lele sangkuriang, kita tetap harus menjaga dan waspada kepada setiap bahaya dan penyakit yang mungkin menyerang lele sangkuriang, hanya saja daya tahan yang lebih terhadap penyakit tentunya jadi hal yang lebih menguntungkan untuk para peternak lele.

~ keunggulan lele sangkuriang  juga dapat dirasakan melalui cita rasa dagingnya yang telah banyak dibuktikan oleh berbagai kalangan, disamping rasanya yang lebih gurih, lele sangkuriang memiliki tekstur daging yang lebih padat dan minim akan lemak.

~ keunggulan lele sangkuriang  dalam proses pembudidayaan dan pemeliharaan yang terbilang mudah dan sederhana, baik dari segi lokasi, sarana kolam, perawatan air dan perawatan ikan jauh lebih mudah dan sederhana, karena lele sangkuriang juga bisa dibudidayakan dalam lahan yang terbilang sempit, tentunya dengan menggunakan metode dan teknologi yang benar dan memenuhi syarat.

~ Keunggulan lele sangkuriang juga bisa dilihat dalam hal pengadaan benih, kini benih lele sangkuriang sudah mulai mudah didapat, namun harus tetap selektif memilih tempat untuk membeli benih, usahakan membeli benih lele sangkuriang pada tempat-tempat yang sudah terjamin dan bisa dipercaya.

Rasanya masih banyak lagi keunggulan lele sangkuriang yang  masih bisa disebutkan. Jadi memang sudah sepantasnya jika banyak kalangan yang bergelut di dunia lele kini mulai beralih kepada lele sangkuriang karena keunggulan lele sangkuriang memang telah banyak dibuktikan belakangan ini.

Betapa Besarnya Permintaan Lele !

Kebutuhan atau permintaan terhadap lele tidak pernah surut, bahkan cenderung meningkat setiap tahun. Boleh dibilang, produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok saja, setiap hari membutuhkan sekitar 75 ton lele konsumsi.

Tingkat konsumsi lele nasional pada tahun 2003 meningkat 18.3%, yakni dari 24.991 ton/tahun menjadi 57.740 ton/tahun. Revitalisasi lele sampai akhir tahun 2009 menargetkan produksi sejumlah 175 ton atau meningkat rata-rata 21.64% per tahun.

Sementara itu, permintaan benih lele juga terus meningkat dari 156 juta ekor pada tahun 1999 menjadi 360 juta ekor pada tahun 2003 atau meningkat rata-rata sebesar 46% per tahun. Kebutuhan benih lele hingga akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 1.95 miliar ekor.

Dari uraian di atas, bisa dibayangkan betapa besarnya kebutuhan dan permintaan lele, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.

Situasi ini merupakan suatu indikasi dan peluang baik bagi siapa pun yang ingin meramaikan khasanah usaha budi daya lele di negeri ini. ( Sumber AgroMedia.com)

Seeding Of Sangkuriang Catfish

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Pengembangan usaha budidaya ikan ini semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985.

Peningkatan tersebut dapat terjadi karena ikan lele dumbo dapat dibudidayakan pada lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi, modal usahanya relatif rendah karena dapat menggunakan sumber daya yang relatif mudah didapatkan, teknologi budidayanya relatif mudah dikuasai masyarakat dan pemasaran benih dan ukuran konsumsinya relatif mudah.

Perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung oleh kontrol yang baik terhadap penggunaan induk telah mengakibatkan terjadinya perkawinan sekerabat (inbreeding) yang tinggi.

Perkawinan sekerabat ini telah menyebabkan terjadinya ketidakstabilan perrtumbuhan ikan yang ditandai oleh adanya penurunan pertumbuhan pada produksi pembenihan dan pembesaran.

Hasil evaluasi fluktuasi asimetri terhadap benih yang berasal dari Sleman, Tulung Agung dan Bogor menunjukkan telah terjadi peningkatan ketidakstabilan pertumbuhan lele dumbo yang ditandai dengan tingginya tingkat asimetri dan abnormalitas (Nurhidayat, 2000).

Sedangkan menurut Rustidja (1999), pada awal masuk ke Indonesia, pembudidaya lele dapat menghasilkan ukuran konsumsi hanya dalam waktu 70 hari dari ukuran benih 3-5 cm, namun dengan pola budidaya yang sama, ukuran konsumsi baru dapat dicapai setelah pemeliharaan lebih dari 100 hari.

Untuk mendekatkan kembali mutu benih lele dumbo saat ini kepada mutu asalnya, perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada proses produksi induk lele dumbo.


Perbaikan mutu lele dumbo dapat dilakukan dengan beberapa strategi, antara lain dengan cara seleksi, hibridisasi, silang-balik, ginogenesis maupun transgenik (Rustidja, 1999).

Peningkatan mutu dengan silang-balik dilakukan pada lele dumbo, mengingat sebagai ikan hibrida yang introduksi ke Indonesia, tanpa disertai dengan induk murninya, sehingga tidak dapat dilakukan proses hibridisasi.

Proses silang-balik dilakukan dengan cara mengawinkan induk lele yang ada saat ini dengan tetuanya sehingga walaupun program ini termasuk proses silang-dalam namun dapat mendekatkan kembali variasi genetik yang dipunyai tetuanya.

Rustidja (1999) menyarankan untuk melakukan perkawinan induk saat ini dengan generasi pertama hingga generasi ketiga.

Upaya perbaikan tersebut telah dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi sejak tahun 2000 dan telah menghasilkan lele SANGKURIANG yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik.

Hasil perekayasaan ini menghasilkan “Lele SANGKURIANG” yang sudah dilepas sebagai varietas unggul dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26/MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004.

Lele SANGKURIANG memiliki fekunditas dan pertumbuhan yang lebih tinggi serta tingkat konversi pakan yang lebih rendah dibandingkan dengan lele SANGKURIANG yang saat ini beredar di masyarakat (Tabel 1).
No Karakter Lele Sangkuriang Lele Dumbo
I.                 Karakter Reproduksi    
I.1.           Kematangan gonad pertama (bulan) 8 – 9 4 – 5
I.2.           Fekunditas (butir/kg induk betina) 40,000 – 60,000 20,000 – 30,000
I.3.           Diamater telur (mm) 1.1 – 1.4 1.1 – 1.4
I.4.           Lamanya waktu inkubasi telur pada suhu 23 oC – 24 oC (jam) 30 – 36 30 – 36
I.5.           Lamanya kantung telur terserap pada suhu 23 oC – 24 oC (hari) 4 – 5 4 – 5
I.6.           Derajat penetasan telur (%) > 90 > 80
I.7.           Panjang larva umur 5 hari (mm) 9.13 9.13
I.8.           Berat larva umur 5 hari (mg) 2.85 2.85
I.9.           Sifat larva Tidak kanibal Tidak kanibal
I.10.       Kelangsungan hidup larva (%) 90 – 95 90 – 95
I.11.        Pakan alami larva Moina sp.Daphnia sp.Tubifex sp. Moina sp.Daphnia sp.Tubifex sp.
II.               Karakter Pertumbuhan    
II.1.         Pertumbuhan harian bobot benih umur 5 hari – 26 hari (%) 29.26 20.38
II.2.         Panjang standar rata-rata benih umur 26 hari (cm) 3 – 5  2 – 3
II.3.         Kelangsungan hidup benih umur 5 hari – 26 hari (%) > 80 > 80
II.4.         Pertumbuhan harian bobot benih umur 26 hari – 40 hari (%) 13.96 12.18
II.5.         Panjang standar rata-rata benih umur 40 hari (cm) 5 – 8 3 – 5
II.6.         Kelangsungan hidup benih umur 26 hari – 40 hari (%) > 90 > 90
II.7.         Pertumbuhan harian bobot pada pembesaran selama 3 bulan (%) 3.53  
II.8.         Pertumbuhan harian bobot calon induk (%) 0.85  
II.9.         Konversi pakan pada pembesaran 0.8 – 1.0 > 1
III.             Toleransi terhadap Lingkungan    
III.1.       Suhu (oC) 22 – 34 22 – 34
III.2.       Nilai pH 6 – 9 6 – 9
III.3.       Oksigen terlarut (mg/l) > 1 > 1
IV.            Toleransi terhadap Penyakit    
IV.1.       Intensitas Trichodina sp. Pada pendederan di kolam (individu) 30 – 40 > 100
IV.2.      Intensitas Ichthiophthirius sp. Pada pendederan di kolam (individu) 6.30 19.50