Kamis, 12 Januari 2012

Peluang Usaha Lele Sangkuriang

Reputasi lele dumbo sejak diperkenalkan di Indonesia tahun 1985 langsung melejit. Pertumbuhan yang cepat, serta penyerapan pasar yang sangat tinggi seiring menjamurnya warung tenda pecel lele membuat para pelaku bisnis melirik budidaya lele.

Tetapi ternyata laju produksi belum berhasil mengimbangi laju permintaan sehingga pasar selalu kekurangan pasokan.

Inilah yang menantang para ahli perikanan untuk menemukan varietas lele baru: yang pertumbuhannya lebih cepat tanpa mengurangi kualitas dan cita rasa daging lele yang sudah ada bahkan dengan cita rasa yang lebih baik.

Maka lahirlah Lele Sangkuriang – hasil perkawinan induk lele dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan lele dumbo generasi keenam (F6) yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Peluang Usaha Budidaya Lele Sangkuriang. Meskipun bermoyang lele Dumbo, namun lele Sangkuriang memiliki kelebihan dibandingkan leluhurnya.

Jika dibandingkan dengan lele Dumbo, “lele Sangkuriang memiliki produktivitas lebih tinggi, panen lebih cepat, kemampuan daya tetas telur lebih tinggi, daya tahan terhadap penyakit lebih tinggi dan rasa dagingnya lebih gurih.lele Sangkuriang hanya membutuhkan waktu 50 – 60 hari untuk siap dipanen

Konversi pakan pada lele Dumbo adalah 1,2:1 sedangkan pada lele Sangkuriang 1:1. Artinya untuk menghasilkan daging 1 kg Cuma dibutuhkan pakan l kg juga.). Kemampuan bertelurnyanya pun berbeda. Jika indukan lele Dumbo hanya bertelur antara 2000-15.000, lele Sangkuriang mampu hingga 20.000.

PASOKAN LELE
Kemajuan teknologi mempercepat masa panen akan membuat pasar menjadi jenuh karena tingkat kebutuhan konsumsi daging lele masih jauh dari tercukupi. Untuk Jakarta dan sekitarnya saja per hari kebutuhan daging lele mencapai 80 ton. Sementara kemampuan memasok baru 60 ton per hari. Itu pun sudah memperhitungkan pasokan yang diambil dari luar daerah, misalnya dari Indramayu.

TIPS DAN SARAN
Peluang Usaha Budidaya Lele Sangkuriang, Kepada para pemula disarankan untuk memulainya dengan membesarkan 1000 lele Sangkuriang terlebih dahulu. “Hitung – hitung sebagai wahana untuk belajar. Untuk pembesaran ikan lele Sangkuriang berskala bisnis, minimal harus membudidayakan 3000 ekor.

Kolam disarankan agar menggunakan kolam terpal. Alasannya, dengan kolam terpal pemanenan lebih gampang dan hasil panen juga lebih mudah diprediksi. “Sebaiknya menggunakan terpal yang dipres bukan dijahit, supaya air tidak merembes.”

Populasi disarankan tak lebih 100 ekor per M2. Selain dimaksudkan agar ikan mengalami pertumbuhan yang maksimal, juga meminimalisir kanibalisme, yang memang sudah menjadi tabiat alamiah lele. “Pemberian pakan tepat serta populasi tidak terlalu padat perilaku lele.

Mula – mula kolam terpal di isi air setinggi 50 CM dan diberi pupuk kandang atau kompos. Setelah delapan hari akan muncul jentik-jentik dan benih ikan ukuran 4 – 6 CM bisa ditebarkan ke dalamnya. Selama masa pembesaran itu pakan berganti sekitar empat kali sesuai dengan pertumbuhan ikan.

Setiap kali pergantian jenis pakan, kolam ditambah air setinggi 20 CM. Sehingga pada saat siap panen tinggi air kira-kira 120 CM. Kondisi PH air juga harus selalu dikontrol, terutarna sekali setiap habis hujan, karena biasanya derajat keasaman air meningkat.
Analisis Bisnis Pembesaran Lele Sangkuriang
1.      Biaya Investasi
-          Pembuatan satu kolam terpal ukuran 2 Mx5 M                                   Rp. 500.000,-
2.      Biaya Produksi
-          Pembelian benih 1000 ekor @Rp150; -                                              Rp. 150.000,-
-          Pakan
3 kg pelet L1  @Rp 7.500,-                                                                 Rp. 22.000,-
­5 kg pelet L2  @Rp 7.000,-                                                                 Rp. 35.000,-
­22 kg pelet PL @Rp 6.700,­-                                                                Rp. 147.000,-
70 kg pelet tenggelam @Rp5.400                                                       Rp. 378.000,-
Biaya Penyusutan Kolam 10% x Rp500.000,-                                     Rp.   50.000,-+
­Total Biaya Produksi Rp. 782.400,-
3.      Pendapatan
Total produksi x harga lele Sangkuriang/kg  ( 12 x Rp.11.000,)                Rp. 1.320.000,-
4.      Keuntungan
Keuntungan = Total pendapatan – Total biaya produksi
=  Rp1.320.000 – Rp782.000
=  Rp. 537.600,-
5.      Analisis Kelayakan Usaha
BEP Harga       = Total biaya produksi Rp782.400 Rp. 6.550./kg
Total produksi                    120
BEP Produksi  = Total biaya produksi     Rp782.400                                         71,2 kg
Harga jual/kg                   11.000
Artinya pembesaran tidak mengalami keuntungan maupun kerugian jika dijual Rp6.550; /kg Atau jika produksi yang terjual hanya 71,2 kg.

Menyimak Pengalaman Rosalita, Pembudidaya Lele Organik

Bermodal Rp 1 Juta, Sukses Menjadi Pengusaha Lele
Awalnya tak menyukai lelemelihat bentuknya pun takut.

Kini, mencium untung dariikan lele diendus Rosa Rosalitasejak setahun terakhir. Semulaia hanya menjadi ibu rumahtangga kini justru menjadientrepreneur sebagai peternaklele organik. Profesi yang jarangdilirik kaum perempuan itu justrumelambungkan kesuksesannyamembudidayakan lele.
Bagaimana kisahnya?
YERIVLORIDA


Dikisahkannya, awalnya ia mengetahui lele dari internet. Rasa penasaran ia telusuri hingga nekat mengikuti pelatihan khusus lele Sangkuriang, di Gadok, Bogor, lawa Barat.

Selama tiga hari dengan bermodal satu juta rupiah untuk biaya pelatihan, ia tekun mengikuti pelatihan hingga usai. Hasilnya, Rosa menerapkan ilmu itu dengan memanfaatkan lahan tidur miliknya yang berada di belakang komplek tempat ia bermukim di Graha Raya, Bintaro, Tangerang Selatan.

Bentangan lahan seluas seribu meter persegi ia gunakan untuk membuat bak berlapis terpal menjadi benih lele. "Saat pelatihan pesertanya dari seluruh Indonesia," terang perempuan kelahiran Bandung 20 November 1969 itu. Tadinya, kata Rosa, ia hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi keluarga.

Namun keinginannya kuatnya terjun menjadi entrepreneur tak surut. Hingga
kini, Rosa cukup dikenal sebagai pembenih di kalangan pengusaha lele. "Harga lele murah meriah terjangkau semua lapisan masyarakat dibanding daging sapi dan ayam," kata ibu tiga anak itu.

 Ternak lele tidak begitu rumit asalkan dirawat dengan tekun hingga masa panen. Untuk benih dalam sebulan sudah bisa dipanen. Sedangkan untuk jual daging, masapanen cukup singkat yakni tiga bulan.

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985 oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Cara Budidaya Lele

I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. Sistem Budidaya.
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

IV. Tahap Proses Budidaya.
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :

Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.

Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.

Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna badan lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.

- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.

- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
- Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
- kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
- siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
- samakan suhu pada kedua kolam
- pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.
- Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun seperti amoniak
- mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan.

TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang.

Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain.

Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai.

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Rabu, 11 Januari 2012

LPNU Bogor Panen Lele Sangkuriang

Enam bulan telah berlalu, pelatihan budidaya lele yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Lembaga Perekonomian NU (LPNU) untuk para petani se-Jabodetabek yang dilaksanakan di Cisarua-Puncak Bogor telah membuahkan hasil.

Dua orang petani yang semula tidak mengerti sama sekali mengenai budidaya lele Sangkuriang dikirim oleh Pengurus Cabang Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor. Hasilnya sampai saat ini telah 2 kali panen, dengan hasil yang cukup memuaskan.

Bahkan bukan hanya disitu saja, PC LPNU Kab.Bogor telah mengembangkan sendiri pemijahan lele Sangkuriang, jika 3 bulan yang lalu masih membeli bibit dari tempat lain (Ciawi-Bogor ) maka saat ini kebutuhan bibit lele Sangkuriang dapat dipenuhi sendiri.

Sekretaris PCNU Bogor Akhsan Ustadhi menjelaskan ini LPNU Kab Bogor bekerja sama dengan alumni Institut Pertanian Bogor sedang mengembangkan pembuatan pakan untuk lele Sangkuriang sehingga ke depan kebutuhan pakan lele dapat dipenuhi sendiri untuk minimalisir anggaran pakan. Ada rencana pakan tersebut dipasarkan untuk lingkungan NU Kab Bogor.

Hasil Panen tersebut juga dinikmati secara langsung oleh jama’ah NU setiap malam Sabtu dalam pengajian rutin PCNU tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani dalam bentuk hidangan pecel lele, begitu juga dalam acara lailatul Ijtima’ setiap dua bulan sekali.

Dari hasil tersebut maka PCNU Kab.Bogor ingin menularkan ilmu tersebut kepada MWC NU dan Ranting-rantingnya, dengan menyelenggarakan workshop tentang “Budidaya Lele Sangkuriang” pada tanggal 25-27 Juni 2011 di Gedung PCNU Kab.Bogor Jl Bina Citra No.5 Kp Cipayung Kelurahan Tengah Kec.Cibinong Bogor

Cirebon Kembangkan Bibit Ikan Lele Sangkuriang

Balai Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Kota Cirebon terus memacu pengembangan benih ikan lele sangkuriang yang banyak diminati masyarakat petani di Kota Cirebon dan sekitarnya.

"Benih ikan lele sangkuriang yang merupakan hasil perkawinan antara lele dumbo dan lele lokal tersebut ternyata diminati masyarakat karena ikan cepat besar dan rasanya lebih enak dari lele dumbo," kata Kepala Balai Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Kota Cirebon Heru Sutomo SPI didampingi petugas perawatan kolam Yusuf kepada wartawan, Jumat.

Menurut dia, untuk pengembangan tersebut kini BPBIAT telah memiliki ratusan induk jantan dan betina untuk dipijahkan dalam ruang tertutup.

Dalam keadaan normal iduk lele betina satu kilogram per ekor mampu menghasilkan 150 ribu benih ikan sekali bertelur.

"Oleh karena saat ini terjadi musim yang ekstrem, maka benih yang dihasilkan hanya sekitar 20 ribuan, karena telur banyak yang busuk," kata Yusuf.

Masyarakat dapat membeli berupa ikan lele umur satu minggu dengan harga Rp125 atau untuk ukuran pecal lele seharga Rp10 ribu per kilogram. "Lele ukuran pecal tersebut antara 10 ekor dan 12 ekor per kilogram," katanya.

Dikatakannya, permintaan benih ikan semakin banyak sehubuggan dengan pemberian bantuan dari Dirjen Perikanan Air Tawar ke masyarakat Kota Cirebon berupa kolam terpal sebanyak 75 unit ukuran 5x10 meter, di samping kolam-kolam di pekarangan rakyat.

Mengenai kolam bantuan tersebut, penyuluh perikanan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Cirebon Nanang mengatakan, dari kolam plastik yang sudah dipanen hasilnya antara 1,5 kuintal hingga 2,5 kuintal.

"Petani diharapkan bisa menghasilkan empat kuintal dalam waktu tiga bulan, tetapi karena cuaca ekstrem dan petani panen lebih awal bahkan baru berumur 45 hari, maka hasilnya belum maksimal," katanya.

Menyinggung ketahanan terpal bantuan tersebut, ia mengatakan apabila dirawat dengan baik, tahan sekitar empat tahun, atau 16 kali panen ikan lele.

Kearifan Juragan Lele Dari Desa Gadog

Saya mengenal ikan ini dan mengkonsumsi ikan yang punya nama keren Clarias batrachus ini pertama saya kenal ketika sekolah dan kos di Jogja beberapa puluh tahun silam. Kala itu kebanyakan dijajakan dengan digoreng dengan ditemani lalapan dan sambal ala Jawa Timuran, nama menunya Pecel Lele.

Kala itu belum banyak yang suka mengkonsumsinya. Alasannya beragam untuk tidak mengkonsumsinya. Tapi sekarang Anda pasti kaget kalau demand di Jabotabek saja 100 ton/hari. Tapi para pemasok lele, termasuk Pak Nasrudin “kedodoran” memenuhi permintaan itu, Belum permintaan dari kota lain.

Liburan panjang minggu lalu, saya coba manfaatkan berjalan-jalan ke daerah Ciawi bersama keluarga sekaligus menyambangi seorang entrepreneur handal yang punya kontribusi besar di bidang pengembangbiakan ikan lele.

 Namanya tidak sekedar harum di dalam negeri, beberapa akademisi di luar negeri pun tertarik untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) kepada beliau. Lele khas yang dikembangbiakkan dinamai “Lele Sangkuriang”. Siapa Beliau? Dialah “Letkol” Nasrudin (Letkol singkatan dari Lele Kolam), pengusaha sekaligus trainer yang memberikan advis secara “cuma-cuma” kepada para pengembang lele.

Ketika saya mengunjungi Beliau di kediamannya sekaligus markas pengembangan ikan lele Sangkuriang di desa Gadog, kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, terlihat banyak tamu dari mana-mana yang ingin belajar yang diterimanya di saung depan rumahnya yang dikelilingi kolam-kolam lele.

Seringkali diantara mengobrol tentang lele di saung itu, telpon genggamnya tidak berhenti berbunyi. “Sehari tidak kurang dari 200 telpon dari seluruh penjuru tanah air menelpon, rata-rata ingin berkonsultasi tentang pembiakan lele”, ungkapnya tanpa nada bermaksud membanggakan diri.

Wah, menjadi entrepreneur sukses dengan merekrut orang-orang desa sekitar di bidang pengembangbiakan lele, tetapi tetap menyempatkan diri untuk tetap berbagi ilmu merupakan sebuah kearifan seorang entrepreneur yang tidak lulus sekolah dasar ini, sebuah langkah yang perlu diapresiasi.

Dulunya, Bapak Nasrudin juga mengembangkan ikan-ikan lain, seperti ikan mas, gurame dan lain sebagainya. Tetapi setelah itu, Beliau fokus pada pengembangan ikan lele saja.

Biarlah orang lain saja yang mengembangkan ikan-ikan lainya. “Saya mau fokus jadi tukang lele saja, kita tidak boleh serakah”, ujarnya penuh kearifan.

Diantara kesibukan berbisnis lele sangkuriang yang grafik permintaanya selalu mendaki, di markasnya di desa Gadog itu, dia menyediakan waktu untuk mengisi “short course” selama tiga hari yang pesertanya beragam dari mantan pejabat, mahasiswa, orang yang ingin menekuni bisnis per-lele-an. Sudah mencapai beberapa angkatan pelatihan yang diselenggarakan.

Insya Allah siap jadi sarjana lele”, kata Nasrudin yang juga Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang ”Cahaya Kita” untuk wilayah tengah Provinsi Jabar.

Melihat kekeuh-nya kefokusan Sang Maestro Lele ini, saya jadi ingat program OVOP (One Village One Product) yang dipopulerkan gubernur prefektur Oita-Jepang, Hiramatsu-san di tahun 1979 dan sukses dipraktekkan di kota Oyama, yang banyak diadopsi banyak negara.

Termasuk di Indonesia, yang digiatkan oleh pemerintah baru-baru ini, yang iklannya bermunculan di layar kaca.

Prinsipnya, ketimbang “berjualan” beragam, lebih baik tiap desa di prektur Oita kala itu diminta untuk memilih memfokuskan diri pada satu produk dimana di kemampuan terbaiknya bisa dijual. Sehingga setiap desa akan fokus di satu produk.

Dan, Pak Nasrudin yang sekolah formalnya tidak lulus sekolah dasar sudah mempraktekan filosofi bisnis itu dengan baik di bidang per-lele-an.

Saya melihat pola-pola pendekatan Pak Nasrudin dalam memekarkan bisnis pengembangbiakan lele secara sosiologis lebih mengena untuk diterapkan khususnya di kultur masyarakat pedesaan di Indonesia.

Yang menarik, dalam membudidayakan lele Sangkuriang ini, salah satu rahasia kelezatan lele Sangkuriang berkat pakanan yang terpilih. Tidak boleh sembarangan, asal diberi makanan.

Namun, makanan itu haruslah alami. Sudah menjadi pedoman Pak Nasrudin, mengenyahkan segala jenis bahan pengawet, zat kimia, baik di kolam maupun lele. Lele-nya di kolamnya tak ada yang disuntik.

Kolamnya pun tidak pernah dibersihkan dengan formalin. Dan sudah diteliti, Lele sangkuriang kaya mengandung Omega 3 yang dibutuhkan tubuh manusia.

Banyak bisnis yang menggiurkan tetapi terkadang “membahayakan” kalau dikonsumsi manusia. Tetapi, bisnis Lele sangkuriang yang dikembangkan Pak Nasrudin terbukti menyehatkan, jangka waktu panen juga pendek, dan satu lagi yang esensial dalam bisnis, masih banyak permintaan yang belum bisa terpenuhi karena tingginya permintaan yang njomplang dengan pembudidayanya. Tertarik menekuni bisnis budidaya lele Sangkuriang?

Analisa Usaha

Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik
1. Investasi
a. Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,- = Rp 1.000.000,-
b. Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,- = Rp 1.500.000,-
c. Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,- = Rp 750.000,
Jumlah Rp 3.250.000,-

2. Biaya Tetap
a. Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn = Rp 1.000.000,-
b. Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn = Rp 750.000,-
c. Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn = Rp 150.000,
Jumlah Rp 1.900.000,-

3. Biaya Variabel
a. Pakan 4800 kg @ Rp 3700 = Rp 17.760.000,-
b. Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,- = Rp 2.021.052,63
c. Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- = Rp 300.000,-
d. Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- = Rp 200.000,-
e. Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,- = Rp 3.000.000,-
f. Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- = Rp 1.200.000,-
Jumlah Rp 24.281.052,63

4. Total Biaya
Biaya Tetap + Biaya Variabel
= Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
= Rp 26.181.052,63

5. Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,

6. Pendapatan
Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)
= Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
= Rp 2.418.947,37

7. Break Event Point (BEP)
Volume produksi = 4.396,84 kg
Harga produksi = Rp 5.496,05

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya