Rabu, 11 Januari 2012

LPNU Bogor Panen Lele Sangkuriang

Enam bulan telah berlalu, pelatihan budidaya lele yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Lembaga Perekonomian NU (LPNU) untuk para petani se-Jabodetabek yang dilaksanakan di Cisarua-Puncak Bogor telah membuahkan hasil.

Dua orang petani yang semula tidak mengerti sama sekali mengenai budidaya lele Sangkuriang dikirim oleh Pengurus Cabang Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor. Hasilnya sampai saat ini telah 2 kali panen, dengan hasil yang cukup memuaskan.

Bahkan bukan hanya disitu saja, PC LPNU Kab.Bogor telah mengembangkan sendiri pemijahan lele Sangkuriang, jika 3 bulan yang lalu masih membeli bibit dari tempat lain (Ciawi-Bogor ) maka saat ini kebutuhan bibit lele Sangkuriang dapat dipenuhi sendiri.

Sekretaris PCNU Bogor Akhsan Ustadhi menjelaskan ini LPNU Kab Bogor bekerja sama dengan alumni Institut Pertanian Bogor sedang mengembangkan pembuatan pakan untuk lele Sangkuriang sehingga ke depan kebutuhan pakan lele dapat dipenuhi sendiri untuk minimalisir anggaran pakan. Ada rencana pakan tersebut dipasarkan untuk lingkungan NU Kab Bogor.

Hasil Panen tersebut juga dinikmati secara langsung oleh jama’ah NU setiap malam Sabtu dalam pengajian rutin PCNU tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani dalam bentuk hidangan pecel lele, begitu juga dalam acara lailatul Ijtima’ setiap dua bulan sekali.

Dari hasil tersebut maka PCNU Kab.Bogor ingin menularkan ilmu tersebut kepada MWC NU dan Ranting-rantingnya, dengan menyelenggarakan workshop tentang “Budidaya Lele Sangkuriang” pada tanggal 25-27 Juni 2011 di Gedung PCNU Kab.Bogor Jl Bina Citra No.5 Kp Cipayung Kelurahan Tengah Kec.Cibinong Bogor

Cirebon Kembangkan Bibit Ikan Lele Sangkuriang

Balai Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Kota Cirebon terus memacu pengembangan benih ikan lele sangkuriang yang banyak diminati masyarakat petani di Kota Cirebon dan sekitarnya.

"Benih ikan lele sangkuriang yang merupakan hasil perkawinan antara lele dumbo dan lele lokal tersebut ternyata diminati masyarakat karena ikan cepat besar dan rasanya lebih enak dari lele dumbo," kata Kepala Balai Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Kota Cirebon Heru Sutomo SPI didampingi petugas perawatan kolam Yusuf kepada wartawan, Jumat.

Menurut dia, untuk pengembangan tersebut kini BPBIAT telah memiliki ratusan induk jantan dan betina untuk dipijahkan dalam ruang tertutup.

Dalam keadaan normal iduk lele betina satu kilogram per ekor mampu menghasilkan 150 ribu benih ikan sekali bertelur.

"Oleh karena saat ini terjadi musim yang ekstrem, maka benih yang dihasilkan hanya sekitar 20 ribuan, karena telur banyak yang busuk," kata Yusuf.

Masyarakat dapat membeli berupa ikan lele umur satu minggu dengan harga Rp125 atau untuk ukuran pecal lele seharga Rp10 ribu per kilogram. "Lele ukuran pecal tersebut antara 10 ekor dan 12 ekor per kilogram," katanya.

Dikatakannya, permintaan benih ikan semakin banyak sehubuggan dengan pemberian bantuan dari Dirjen Perikanan Air Tawar ke masyarakat Kota Cirebon berupa kolam terpal sebanyak 75 unit ukuran 5x10 meter, di samping kolam-kolam di pekarangan rakyat.

Mengenai kolam bantuan tersebut, penyuluh perikanan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Cirebon Nanang mengatakan, dari kolam plastik yang sudah dipanen hasilnya antara 1,5 kuintal hingga 2,5 kuintal.

"Petani diharapkan bisa menghasilkan empat kuintal dalam waktu tiga bulan, tetapi karena cuaca ekstrem dan petani panen lebih awal bahkan baru berumur 45 hari, maka hasilnya belum maksimal," katanya.

Menyinggung ketahanan terpal bantuan tersebut, ia mengatakan apabila dirawat dengan baik, tahan sekitar empat tahun, atau 16 kali panen ikan lele.

Kearifan Juragan Lele Dari Desa Gadog

Saya mengenal ikan ini dan mengkonsumsi ikan yang punya nama keren Clarias batrachus ini pertama saya kenal ketika sekolah dan kos di Jogja beberapa puluh tahun silam. Kala itu kebanyakan dijajakan dengan digoreng dengan ditemani lalapan dan sambal ala Jawa Timuran, nama menunya Pecel Lele.

Kala itu belum banyak yang suka mengkonsumsinya. Alasannya beragam untuk tidak mengkonsumsinya. Tapi sekarang Anda pasti kaget kalau demand di Jabotabek saja 100 ton/hari. Tapi para pemasok lele, termasuk Pak Nasrudin “kedodoran” memenuhi permintaan itu, Belum permintaan dari kota lain.

Liburan panjang minggu lalu, saya coba manfaatkan berjalan-jalan ke daerah Ciawi bersama keluarga sekaligus menyambangi seorang entrepreneur handal yang punya kontribusi besar di bidang pengembangbiakan ikan lele.

 Namanya tidak sekedar harum di dalam negeri, beberapa akademisi di luar negeri pun tertarik untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) kepada beliau. Lele khas yang dikembangbiakkan dinamai “Lele Sangkuriang”. Siapa Beliau? Dialah “Letkol” Nasrudin (Letkol singkatan dari Lele Kolam), pengusaha sekaligus trainer yang memberikan advis secara “cuma-cuma” kepada para pengembang lele.

Ketika saya mengunjungi Beliau di kediamannya sekaligus markas pengembangan ikan lele Sangkuriang di desa Gadog, kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, terlihat banyak tamu dari mana-mana yang ingin belajar yang diterimanya di saung depan rumahnya yang dikelilingi kolam-kolam lele.

Seringkali diantara mengobrol tentang lele di saung itu, telpon genggamnya tidak berhenti berbunyi. “Sehari tidak kurang dari 200 telpon dari seluruh penjuru tanah air menelpon, rata-rata ingin berkonsultasi tentang pembiakan lele”, ungkapnya tanpa nada bermaksud membanggakan diri.

Wah, menjadi entrepreneur sukses dengan merekrut orang-orang desa sekitar di bidang pengembangbiakan lele, tetapi tetap menyempatkan diri untuk tetap berbagi ilmu merupakan sebuah kearifan seorang entrepreneur yang tidak lulus sekolah dasar ini, sebuah langkah yang perlu diapresiasi.

Dulunya, Bapak Nasrudin juga mengembangkan ikan-ikan lain, seperti ikan mas, gurame dan lain sebagainya. Tetapi setelah itu, Beliau fokus pada pengembangan ikan lele saja.

Biarlah orang lain saja yang mengembangkan ikan-ikan lainya. “Saya mau fokus jadi tukang lele saja, kita tidak boleh serakah”, ujarnya penuh kearifan.

Diantara kesibukan berbisnis lele sangkuriang yang grafik permintaanya selalu mendaki, di markasnya di desa Gadog itu, dia menyediakan waktu untuk mengisi “short course” selama tiga hari yang pesertanya beragam dari mantan pejabat, mahasiswa, orang yang ingin menekuni bisnis per-lele-an. Sudah mencapai beberapa angkatan pelatihan yang diselenggarakan.

Insya Allah siap jadi sarjana lele”, kata Nasrudin yang juga Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang ”Cahaya Kita” untuk wilayah tengah Provinsi Jabar.

Melihat kekeuh-nya kefokusan Sang Maestro Lele ini, saya jadi ingat program OVOP (One Village One Product) yang dipopulerkan gubernur prefektur Oita-Jepang, Hiramatsu-san di tahun 1979 dan sukses dipraktekkan di kota Oyama, yang banyak diadopsi banyak negara.

Termasuk di Indonesia, yang digiatkan oleh pemerintah baru-baru ini, yang iklannya bermunculan di layar kaca.

Prinsipnya, ketimbang “berjualan” beragam, lebih baik tiap desa di prektur Oita kala itu diminta untuk memilih memfokuskan diri pada satu produk dimana di kemampuan terbaiknya bisa dijual. Sehingga setiap desa akan fokus di satu produk.

Dan, Pak Nasrudin yang sekolah formalnya tidak lulus sekolah dasar sudah mempraktekan filosofi bisnis itu dengan baik di bidang per-lele-an.

Saya melihat pola-pola pendekatan Pak Nasrudin dalam memekarkan bisnis pengembangbiakan lele secara sosiologis lebih mengena untuk diterapkan khususnya di kultur masyarakat pedesaan di Indonesia.

Yang menarik, dalam membudidayakan lele Sangkuriang ini, salah satu rahasia kelezatan lele Sangkuriang berkat pakanan yang terpilih. Tidak boleh sembarangan, asal diberi makanan.

Namun, makanan itu haruslah alami. Sudah menjadi pedoman Pak Nasrudin, mengenyahkan segala jenis bahan pengawet, zat kimia, baik di kolam maupun lele. Lele-nya di kolamnya tak ada yang disuntik.

Kolamnya pun tidak pernah dibersihkan dengan formalin. Dan sudah diteliti, Lele sangkuriang kaya mengandung Omega 3 yang dibutuhkan tubuh manusia.

Banyak bisnis yang menggiurkan tetapi terkadang “membahayakan” kalau dikonsumsi manusia. Tetapi, bisnis Lele sangkuriang yang dikembangkan Pak Nasrudin terbukti menyehatkan, jangka waktu panen juga pendek, dan satu lagi yang esensial dalam bisnis, masih banyak permintaan yang belum bisa terpenuhi karena tingginya permintaan yang njomplang dengan pembudidayanya. Tertarik menekuni bisnis budidaya lele Sangkuriang?

Analisa Usaha

Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik
1. Investasi
a. Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,- = Rp 1.000.000,-
b. Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,- = Rp 1.500.000,-
c. Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,- = Rp 750.000,
Jumlah Rp 3.250.000,-

2. Biaya Tetap
a. Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn = Rp 1.000.000,-
b. Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn = Rp 750.000,-
c. Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn = Rp 150.000,
Jumlah Rp 1.900.000,-

3. Biaya Variabel
a. Pakan 4800 kg @ Rp 3700 = Rp 17.760.000,-
b. Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,- = Rp 2.021.052,63
c. Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- = Rp 300.000,-
d. Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- = Rp 200.000,-
e. Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,- = Rp 3.000.000,-
f. Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- = Rp 1.200.000,-
Jumlah Rp 24.281.052,63

4. Total Biaya
Biaya Tetap + Biaya Variabel
= Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
= Rp 26.181.052,63

5. Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,

6. Pendapatan
Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)
= Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
= Rp 2.418.947,37

7. Break Event Point (BEP)
Volume produksi = 4.396,84 kg
Harga produksi = Rp 5.496,05

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya

Tips Lengkap Ternak Lele Sangkuriang

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele sangkuriang berkembang pesat dikarenakan :

1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi,
2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat,
3) pemasarannya relatif mudah dan
4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985.

Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas.

Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang. Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele sangkuriang tergolong omnivora.

Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Lele Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama "Lele Sangkuriang".

Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6).

Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985.

Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi.

Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi.

Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele sangkuriang, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:

a. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. b. pH air yang ideal berkisar antara 6-9. c. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2.

Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik).


Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran.

Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki.

Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk "L" mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan lele sangkuriang jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan BudidayaSebelum benih ikan lele sangkuriang ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:a. Persiapan kolam tanah (tradisional). Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya.

Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran.

Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor). Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele sangkuriang) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam.

Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring
Kemudian dilakukan pengisian air kolam.
Kolam dibiarkan selama 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

b. Persiapan kolam tembok
Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

c. Penebaran Benih
Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih.

Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam.

Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih lele sangkuriang yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

d. Pemberian Pakan
Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele sangkuriang perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam.

Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

e. Pemanenan
Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm.

Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele sangkuriang akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit.

Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah lele sangkuriang dapat ditangkap atau diangkat.

Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum lele sangkuriang tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Selasa, 10 Januari 2012

Memijahkan Lele Sangkuriang Secara Alami

Dalam melakukan pemijahan lele sangkuriang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, al :

1. Persiapan kolam pemijahan. 
Kolam Pemijahan bisa dibuat dengan membuat kolam terpal yang lebih praktis dan ekonomis dan mudah dalam pelaksanaannya. Untuk kolam pemijahan bisa dibuat dengan ukuran 4m x 2m dengan ketinggian dinding kolam 1 meter.

2. Pembuatan Kakaban.
kakaban dibuat dengan  menggunakan ijuk  yang telah dibersihan dari lidi-lidi besarnya dengan maksud agar lele tidak terluka pada saat melakukan pemijahan,  ijuk tersebut dipotong kurang lebih 30 - 40 cm kemudian dipaku bersama dua bilah bambu yang sudah diserut halus. Panjang kakaban dibuat 1,5 m dan untuk kolam ukuran 2m x 4m dibutuhkan 14 - 18 buah kakaban. 


3. Persiapan Kolam Penetasan.
Kolam penetasan dibuat dengan ukuran 4m x 3m dengan ketinggian dinding 50cm, kolam ini juga dibuat dengan menggunakan terpal agar lebih mudah. Untuk satu kali pemijahan dibutuhkan 5 buah kolam penetasan, ini disebabkan telur yang dihasilkan sangat banyak jadi harus dibagi ke beberapa kolam penetasan.


4. Persiapan Indukan.
Dalam melaksanakan pemijahan harus disiapkan indukan yang siap untuk pemijahan baik jantan ataupun betina. Ciri indukan yang siap untuk betina adalah alat kelamin sudah berwarna merah jambu ataupun kalau itu tidak begitu kelihatan tinggal dipegang perutnya kalau terasa lembek berarti sudah siap. 
 
Untuk yang jantan juga sama bila alat kelaminnya sudah kelihatan berwarna merah mudah dan menonjol atau bisa juga dilihat dari siripnya bagian atas yang berdiri.


5. Persiapan Pemijahan.
setelah disiapkan kolam pemijahan kita bisa memulai proses persiapan pemijahan antara lain : 
 
a. Pengaturan kakaban didalam kolam pemijahan.
kakaban yang telah disiapkan diatur didalam kolam pemijahan secara teratur dan rapat sehingga semua telur bisa menempel dengan bagus di kakaban tersebut dan juga agar indukan lele tidak stres.  Kakaban yang sudah diatur di dasar kolam selanjutnya ditahan bambu dengan maksud agar kakaban setelah diisi air tidak naik keatas, (lihat foto).


b. Mengisi kolam pemijahan dengan air bersih.
Setelah kakaban selesai diatur di kolam pemijahan selanjutnya dilakukan pengisian kolam dengan air bersih setinggi 25 sampai dengan 30 cm.
c. Pemindahan Indukan.
Kolam yang sudah terisi air berarti telah siap untuk diisi indukan, indukan yang sudah kita siapkan baik jantan atau betina segera dipindahkan ke dalam kolam pemijahan dengan menggunakan seser secara pelan-pelan agar lele tidak stres. Pemindahan indukan sebaiknya dilakukan pada sore hari sekitar  jam 16.00.



d. Proses Perkawinan.
Selama indukan didalam kolam pemijahan jangan sekali-kali membuat kegaduhan di sekitar kolam karena menyebabkan lele tidak akan bertelur dengan baik, lele baru akan bertelur kurang lebih setelah subuh sampai pagi hari apabila kondisi lingkungan tenang.
 
6. Pemindahan Telur.
Biasanya pagi hari sekitar jam 6-7 pagi telur sudah bisa dilihat dengan mata kita ditandai adanya butiran warna hujau gelap diatas kakaban dan akan terlihat banyak sekali karena satu indukan bisa bertelur sampai 30.000 butir, selanjutnya pada sore harinya bisa diipindahkan masing-masing kakaban yang berisi telur ke masing-masing kolam penetasan.


Setelah semuanya berapa pada kolam masing-masing tnggal menunggu benih tersebut menetas pada keesokan harinya, biasanya pagi sudah kelihatan adan larva yang berenang disekitar kakaban apalagi dibawah kakaban akan kelihatan ribuan larva yang sedang berkumpul.

Demikian ulasan singkat mengenai pemijahan lele sangkuriang secara alami semoga berguna bagi rekan-rekan sesama pencinta lele sangkuriang, bagi yang kurang jelas silahkan berikan comment anda ataupun saran untuk bertukar pikiran mengenai budidaya lele sangkuriang.

Penyuluhan Budidaya Lele Sangkuriang Di Kecamatan DAU

Dengan semakin populernya lele sangkuriang di malang, mahasiswa Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Perangkat Desa Kucur Kabupaten Malang dan juga bekerja sama dengan BKP3 (Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksanaan Penyuluhan) 

UPT Balai Penyuluhan Kecamatan DAU Kabupaten Malang mengadakan penyuluan mengenai bududaya lelesangkuriang pada tanggal 9 juli 2011, sebagai pembicara mengenai budidaya lele sangkuriang adalah saya sendiri.
 
Dari BKP3 diwakili oleh Bpk. Natanael selaku Kepala UPT Balai Penyuluhan Kecamatan DAU dan Bpk. Hariyanto, dari Perangkat Desa Kucur diwakili oleh Bpk. Kades Kucur beserta warga dan mahasiswa UNM Malang.

Berikut ini  beberapa foto dari penyuluhan yang diselenggarakan di Desa Kucur Kecamatan DAU.